— PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membalikkan kerugian menjadi keuntungan pada kuartal I-2026. Perusahaan melaporkan laba bersih US$82 juta, berbalik dari rugi bersih US$3,5 juta pada periode sebelumnya.

Peningkatan kinerja dipicu oleh lonjakan pendapatan dan volume produksi, yang menjadi daya dorong utama perbaikan margin perusahaan.

Kinerja Keuangan Dan Pendapatan

Menurut catatan Phintraco Sekuritas, pendapatan MBMA naik 24% menjadi US$455 juta. Kenaikan ini didorong oleh kontribusi lebih besar dari segmen NPI (Nickel Pig Iron) dan bijih nikel, serta peningkatan average selling price (ASP) sejalan dengan reli harga nikel pada awal 2026.

Ekspor ke China tercatat menyumbang sekitar 31% dari total pendapatan perusahaan pada kuartal tersebut.

Produksi Dan Penjualan Bijih

Secara operasional, produksi bijih nikel saprolit mencapai 2,3 juta ton, tumbuh 72% year-on-year, sedangkan penjualan saprolit tercatat 1,9 juta ton, naik 42%.

Peningkatan pasokan saprolit disokong oleh fokus perusahaan untuk meningkatkan pasokan dari tambang SCM ke smelter dan mengurangi ketergantungan pada pembelian dari pihak ketiga.

Produksi bijih limonit meningkat signifikan; produksi naik 195% menjadi 5,4 juta ton, sedangkan penjualan limonit naik 126% YoY menjadi 4,8 juta ton, menurut Phintraco Sekuritas.

Material Baterai Dan Pengembangan HPAL

Kenaikan produksi limonit diarahkan untuk mendukung operasi HPAL milik PT ESG New Energy Material. Produksi MHP (material baterai kendaraan listrik) disebutkan sudah dimulai.

Phintraco menyebut pengembangan fasilitas HPAL terus menunjukkan kemajuan. Perusahaan menargetkan proses commissioning pabrik SLNC dimulai pada semester II-2026, dengan produksi perdana MHP diperkirakan pada periode yang sama.

Rekomendasi Dan Risiko Saham

Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MBMA dengan harga wajar Rp790, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 57% dari level saat penilaian.

Risiko utama yang disebut meliputi rencana penerapan windfall tax, kenaikan harga mineral acuan (HMA), serta rencana implementasi tarif royalti baru untuk nikel.