— Pemerintah Lituania memperketat pengamanan di sekitar fasilitas energi dan transportasi nasional sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman yang dilaporkan oleh badan intelijen. Kebijakan ini diterapkan setelah informasi intelijen menyebut adanya rencana serangan terhadap infrastruktur penting.

Presiden Lituania Gitanas Nauseda mengatakan, meskipun intelijen mengonfirmasi adanya rencana tersebut, detail mengenai waktu dan lokasi serangan belum diterima, dan ia tidak memastikan apakah Lituania merupakan target utama.

“Kami menerima sinyal tersebut dari badan intelijen kami. Informasi yang ada belum mengidentifikasi tempat atau waktu secara jelas karena pihak lawan masih berada dalam tahap perencanaan, dan kami baru mengetahui tujuan atau rencana besarnya,” ungkap Nauseda sebagaimana dikutip kantor berita BNS, Rabu (15/7/2026).

Nauseda menambahkan bahwa ancaman itu dapat berupa beragam metode yang bertujuan merusak infrastruktur kritis secara fisik. Segala tindakan yang berpotensi menghentikan fungsi dan operasional fasilitas penting kini diawasi secara ketat.

Lituania, anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), menempati posisi geopolitik yang rentan karena berbatasan langsung dengan eksklave Rusia, Kaliningrad, serta Belarus, sekutu dekat Rusia.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Lituania dilaporkan telah melipatgandakan anggaran pertahanan hingga tiga kali lipat sebagai respons terhadap ancaman yang meningkat.

Kekhawatiran serupa disuarakan oleh Polandia. Awal bulan ini, otoritas Polandia menyatakan badan intelijen Barat semakin khawatir terhadap risiko serangan sabotase oleh Rusia yang menargetkan wilayah mereka dan negara-negara Baltik.

Sementara itu, Kremlin terus membantah tuduhan perencanaan atau pelaksanaan aksi sabotase di luar wilayah Ukraina dan menyebut laporan semacam itu sebagai bagian dari kampanye propaganda anti-Rusia.

Ketegangan di kawasan Baltik meningkat sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Negara-negara Baltik—Lituania, Latvia, dan Estonia—yang dahulu bagian dari Uni Soviet kini menjadi garis depan NATO dan menilai agresi Rusia sebagai ancaman terhadap kedaulatan mereka.

Kekhawatiran terhadap sabotase infrastruktur didasari sejumlah insiden mencurigakan di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa tersebut meliputi kebocoran pipa gas Nord Stream di Laut Baltik, kerusakan kabel bawah laut, dan serangkaian kebakaran misterius di fasilitas logistik di Polandia dan Jerman.

Dinamika ini mendorong NATO memperkuat kehadiran militer di sayap timur dan menempatkan keamanan infrastruktur energi serta transportasi sebagai garda utama pertahanan kolektif menghadapi perang hibrida (hybrid warfare).