— Parlemen Israel (Knesset) mengumumkan pemilihan umum nasional akan digelar pada 27 Oktober mendatang. Pengumuman itu menempatkan pemilu sebagai momen penentu bagi masa depan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terutama setelah pecahnya perang di Gaza dan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Keputusan penyelenggaraan pemilu itu disampaikan ketika ketegangan regional masih tinggi, termasuk konfrontasi bersenjata yang melibatkan aliansi AS-Israel melawan Iran dan kelompok-kelompok sekutunya. Penetapan tanggal memberi kepastian waktu bagi partai-partai dan pemilih di tengah situasi keamanan yang dinamis.

Parlemen menegaskan tidak diperlukan undang-undang khusus untuk membubarkan Knesset, karena masa jabatan parlemen yang sedang berjalan akan berakhir penuh pada tenggat hukum paling jauh akhir Oktober 2026.

Pasang Surut Karier ‘Bibi’ Netanyahu

Netanyahu, yang kini berusia 76 tahun, tercatat sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel melalui beberapa periode pemerintahan yang tidak berurutan. Politisi yang akrab disapa “Bibi” ini menyatakan kesiapannya kembali bertarung pada pemilu mendatang.

Sepanjang kariernya, Netanyahu kerap menekankan bahwa hanya dirinya yang dapat menjaga keamanan Israel. Narasi tersebut terpukul saat milisi Hamas melancarkan serangan mendadak pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel.

Sebagai balasan, Netanyahu memimpin kampanye militer di Jalur Gaza yang menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina.

Dalam konflik terbaru melawan Iran, militer Israel bersama sekutu utamanya, AS, melakukan serangan dengan keunggulan teknologi hingga menyasar pusat pertahanan Iran. Meski demikian, pertanyaan besar yang muncul adalah sejauh mana rangkaian perang ini akan memengaruhi pilihan pemilih di bilik suara.

Pemerintahan Netanyahu yang dibentuk pada 29 Desember 2022 merupakan koalisi antara Partai Likud, partai-partai ultra-Ortodoks, dan kelompok sayap kanan radikal. Koalisi ini disebut sebagai pemerintahan paling berhaluan keras dalam sejarah negara tersebut.

Tiga Rival Utama Penghadang Netanyahu

Langkah Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan diperkirakan tidak mudah. Ia menghadapi tiga penantang kuat:

  1. Yair Lapid (62 tahun): Mantan jurnalis dan pembawa acara televisi senior yang kini memimpin partai beraliran tengah, Yesh Atid. Lapid menjadi tokoh utama oposisi yang menyatukan kekuatan melawan Netanyahu selama satu dekade terakhir.

  2. Gadi Eisenkot (66 tahun): Mantan panglima militer yang mendapat simpati publik besar setelah putra dan dua keponakannya gugur dalam perang Gaza. Mantan anggota kabinet perang Netanyahu ini berbalik menjadi kritikus tajam dan mendirikan partai baru bernama Yashar.

  3. Naftali Bennett (54 tahun): Mantan perdana menteri yang pernah meruntuhkan dominasi 12 tahun Netanyahu pada 2021 melalui koalisi pelangi. Berdasarkan berbagai jajak pendapat, Bennett menjadi ancaman serius bagi Netanyahu, apalagi setelah membangun aliansi taktis dengan Yair Lapid.

Dihantam Berbagai Krisis Domestik dan Internasional

Menjelang pemilu, posisi politik Netanyahu berada di titik nadir. Survei kegelisahan publik yang dirilis Hebrew University of Jerusalem menunjukkan lebih dari 92% warga Israel merasa Iran memenangkan konflik di Timur Tengah. Dukungan terhadap Netanyahu turun dari 40,5% pada awal Maret 2026 menjadi 29,4% pada Juni 2026.

Selain kemarahan publik atas kegagalan intelijen mendeteksi serangan 7 Oktober 2023, masyarakat Israel juga terpecah soal kewajiban wajib militer bagi pria Yahudi ultra-Ortodoks. Kelompok ultra-Ortodoks selama ini dibebaskan dari kewajiban militer dan menjadi basis pendukung utama koalisi Netanyahu.

Netanyahu menghadapi beban tambahan: persidangan kasus korupsi domestik yang berlarut-larut dan tekanan internasional berupa surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang di Gaza.

Sistem politik Israel dikenal tidak stabil dan bergantung pada koalisi multi-partai yang rapuh. Sejak 2019, negara ini sempat menggelar lima kali pemilu dalam kurun kurang dari empat tahun akibat kebuntuan politik memperebutkan posisi perdana menteri.

Pemilu 27 Oktober 2026 menjadi momen krusial. Hasilnya tidak hanya menentukan masa depan politik Benjamin Netanyahu—yang menghadapi ancaman hukuman penjara jika lengser—tetapi juga arah kebijakan geopolitik di Timur Tengah.

Kemenangan pihak oposisi berpotensi membuka ruang bagi negosiasi gencatan senjata yang lebih fleksibel di Gaza, sementara kemenangan kubu sayap kanan pimpinan Netanyahu diperkirakan akan memperpanjang siklus konflik regional.