Detak Media — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada sesi I perdagangan Selasa (30/6/2026), terdorong oleh kombinasi sentimen negatif dari pasar domestik dan luar negeri.
Bursa mencatat penurunan signifikan yang memicu kepanikan jual di sejumlah saham, sementara pelaku pasar memilih posisi menunggu menjelang rilis data ekonomi penting.
IHSG Ambles Tertekan Sentimen Berlapis
Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat turun 141 poin atau 2,42% ke level 5.679. Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut beberapa faktor yang menekan pasar, antara lain aksi wait and see menjelang data ekonomi, ketidakpastian geopolitik, evaluasi indeks MSCI, serta arus keluar dana asing terkait isu tata kelola di perusahaan tertentu.
Dividen PSAB Rp105 Per Saham Dibayarkan
Emiten pertambangan emas PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) menjadwalkan pembayaran dividen tahun buku 2025 sebesar Rp 2,77 triliun atau Rp 105 per saham pada Selasa (30/6/2026).
Sepanjang 2025, perusahaan mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 35,45 juta dan memiliki saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar US$ 175,83 juta. Pada perdagangan sebelumnya, saham PSAB ditutup menguat tipis 0,49% ke Rp 410, namun dalam sebulan terakhir saham ini turun 13,87%.
Proyeksi Harga Emas: Turun Terlebih Dahulu, Baru Reli
Analis komoditas memperkirakan harga emas dunia akan mengalami penurunan lebih dulu sebelum kembali menguat. Proyeksi menyebut potensi penurunan menuju level di bawah US$ 3.900 per troy ounce, sebelum harga kembali naik ke kisaran sekitar US$ 5.300 per troy ounce.
Pemulihan yang diperkirakan akan berlanjut hingga 2027 menjadi dasar pandangan optimistis tersebut meski harga sempat mengalami tekanan.
Harga Emas Perhiasan: Pantauan Hari Ini
Harga emas perhiasan pada Selasa pagi, 30 Juni 2026, tercatat relatif stabil di beberapa pedagang besar nasional. Pergerakan pasar yang dinamis mendorong rekomendasi agar calon pembeli dan investor terus memantau harga sebelum mengambil keputusan jual-beli.
Bank Besar Janjikan Yield Dividen Lebih Menarik
Meskipun PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih terbesar, riset menunjukkan bahwa beberapa bank lain berpeluang memberikan yield dividen yang lebih tinggi.
Data hingga Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan laba bersih tertinggi dicapai PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 18,6%, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 9,5% dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 7,1%. Secara nominal, BBCA memimpin dengan laba sekitar Rp25 triliun diikuti BMRI Rp23,3 triliun, BBRI Rp20,4 triliun, dan BBNI Rp9 triliun.
Namun analis memperingatkan bahwa pengetatan likuiditas, kenaikan biaya dana, dan persaingan ketat dalam penghimpunan dana pihak ketiga dapat menekan margin dan pertumbuhan laba bersih perbankan ke depan.
Ikuti Detak Media
