Detak Media — HOUSTON — Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026) setelah pelaku pasar melakukan aksi penutupan posisi jual menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Perubahan sentimen itu membuat fokus bergeser ke kondisi pasokan minyak global.
Kontrak Brent berakhir naik 23 sen atau 0,32% ke US$71,80 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 11 sen atau 0,16% ke US$68,69 per barel. Meski sempat menyentuh level terendah sejak awal konflik antara AS-Israel dengan Iran, pergerakan mingguan menunjukkan Brent turun 0,60% dan WTI turun 0,78%.
Pemain pasar menilai kenaikan lebih dipicu aksi short covering ketimbang perubahan mendasar pada permintaan.
“Kami melihat aksi short covering. Fokus pasar kini bergeser dari berapa banyak pasokan yang akan hilang menjadi seberapa besar pasokan yang akan masuk ke pasar,”kata John Kilduff, mitra Again Capital.
Perundingan AS-Iran dan Aliran Minyak Lewat Selat Hormuz
Sentimen juga didukung perkembangan perundingan antara AS dan Iran yang dimediasi Qatar. Pemerintah Qatar menyatakan kedua pihak mencatat kemajuan menuju kesepakatan damai permanen, meski belum ada tanda-tanda tercapainya kesepakatan final.
Putaran negosiasi berikutnya dijadwalkan berlangsung setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang berlangsung usai 9 Juli.
Di lapangan, aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap berlangsung. Data pelayaran mencatat sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang membawa sekitar 10 juta barel minyak Saudi telah keluar dari selat tersebut, sementara Saudi Aramco mempercepat penjualan minyak ke Asia lewat skema harga spot.
Stok Minyak AS Menyusut
Dari Amerika Serikat, Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah turun ke level terendah sejak 2018 pada pekan lalu. Penurunan itu terjadi seiring meningkatnya aktivitas kilang, dan stok bensin juga tercatat menyusut.
Respons analis terhadap kondisi ini beragam. Bjarne Schieldrop, Chief Commodities Analyst SEB, menilai pasokan global relatif aman saat ini.
“Minyak tetap mengalir melalui Selat Hormuz. Selain itu, pelepasan cadangan strategis masih berlangsung, sementara permintaan minyak dari China juga belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini membuat harga masih berpotensi tertekan sebelum kembali pulih,”ujarnya.
Sementara itu, UBS memangkas proyeksi harga Brent untuk kuartal III menjadi US$80 per barel dan untuk kuartal IV juga menjadi US$80 per barel. Proyeksi untuk 2027 diturunkan menjadi US$75 per barel dari US$85 sebelumnya.
HSBC memperkirakan pasar akan mampu menyerap tambahan pasokan dari Timur Tengah seiring berakhirnya pelepasan cadangan strategis oleh International Energy Agency (IEA) pada Juli. Menurut bank asal tersebut, setelah kelebihan pasokan jangka pendek mereda, harga Brent berpotensi bergerak kembali menuju US$80 per barel atau lebih tinggi.
Ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor risiko. Militer Ukraina mengklaim telah menyerang sebuah kilang minyak milik Lukoil di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia, yang berpotensi memengaruhi dinamika pasokan energi global jika insiden tersebut berlanjut.
Ikuti Detak Media
