Detak Media — Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (1/7/2026), memperlihatkan penurunan yang membawa level penutupan ke titik terendah dalam empat bulan terakhir. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya optimisme soal pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat meredakan risiko gangguan pasokan.
Kontrak Brent tercatat turun US$1,38 atau 1,89% menjadi US$71,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun US$0,92 atau 1,32% ke US$68,58 per barel. Kedua acuan mencatat penutupan terendah sejak Maret 2026.
Presiden Donald Trump mengatakan hubungan dengan Iran berkembang positif dan menilai pembicaraan yang berlangsung di Qatar menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Delegasi AS dan Iran menggelar pembicaraan teknis di Doha membahas kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz serta upaya mencapai gencatan senjata lebih permanen di kawasan.
Analis Saxo Bank Ole Hansen menyatakan pasar merespons positif perkembangan tersebut karena risiko terganggunya pasokan dianggap berkurang.
“Negosiasi yang berlangsung di Qatar dipandang positif sehingga harga minyak terus bergerak turun. Bahkan masih ada peluang harga turun lebih dalam,”
Phil Flynn dari Price Futures Group menuturkan pasar mulai meyakini arus pengiriman melalui Selat Hormuz akan kembali normal sehingga prospek pasokan global membaik. Pernyataan serupa datang dari Wakil Presiden AS JD Vance yang menyebut arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali ke tingkat sebelum konflik, meski tidak merinci data.
Stok Minyak AS Turun
Di sisi lain, Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini lebih kecil dari ekspektasi pasar sebesar 4,5 juta barel, namun menempatkan level stok pada posisi terendah sejak September 2018.
Penurunan persediaan terjadi seiring meningkatnya aktivitas kilang untuk memenuhi lonjakan permintaan bahan bakar menjelang libur Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli.
Survei Reuters menunjukkan para analis memangkas proyeksi harga minyak 2026 untuk pertama kali sejak konflik Iran pecah, setelah pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan jangka panjang.
Sepanjang kuartal II-2026, Brent turun sekitar US$45 per barel, mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak krisis keuangan 2008. WTI kehilangan sekitar US$31 per barel, menjadi koreksi kuartalan terdalam sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
Pasar juga mengantisipasi keputusan OPEC+ yang diperkirakan akan menaikkan target produksi mulai Agustus dalam pertemuan akhir pekan ini. Prospek tambahan pasokan tersebut turut memberi tekanan pada harga minyak dunia.
Ikuti Detak Media
