— Harga emas dunia melemah tajam pada perdagangan Senin (13/7/2026) pagi, tercatat turun 1,2% ke level US$ 4.070,7 per ons troi saat berita ditulis. Analis menilai tekanan jual mendominasi pergerakan logam mulia baik dari sisi teknikal maupun fundamental.

Geraldo Kofit, analis di Dupoin Futures, mengatakan sejauh ini belum ada perubahan sentimen global yang signifikan sehingga peluang kelanjutan koreksi masih besar. “Selama harga masih bergerak di bawah kedua garis moving average tersebut, potensi penguatan emas cenderung hanya bersifat sementara atau membentuk secondary trend,” ujarnya dalam riset Senin (13/7/2026).

Struktur Teknikal Dan Target Penurunan

Geraldo menilai struktur tren pada grafik empat jam (H4) masih berada dalam primary trend bearish. Harga belum mampu menembus area Moving Average (MA) 21 dan MA 34, yang kini berfungsi sebagai dynamic resistance.

Menurut proyeksi Geraldo, support pertama berada di US$ 4.018 per ons troi. Jika level itu gagal menahan tekanan jual, target penurunan berikutnya diperkirakan menuju sekitar US$ 3.972 per ons troi. “Area tersebut diperkirakan menjadi level penting yang akan diperhatikan pelaku pasar sebagai potensi munculnya aksi beli maupun kelanjutan tren bearish,” jelasnya.

Momentum Bearish Dari Indikator

Indikator Stochastic juga menunjukkan sinyal pelemahan, masih bergerak turun menuju area oversold atau jenuh jual. Dupoin Futures menilai belum terlihat sinyal pembalikan arah yang cukup kuat. “Momentum bearish masih mendominasi sehingga peluang penurunan masih lebih besar dibandingkan potensi rebound dalam jangka pendek,” kata Geraldo.

Sentimen Fundamental

Geraldo menyebut faktor fundamental turut membebani harga emas, salah satunya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu lebih lama. Kebijakan tersebut membuat dolar AS tetap menarik bagi investor dan menekan permintaan emas.

Dia menambahkan, penguatan dolar AS umumnya berkaitan terbalik dengan harga emas karena membuat logam mulia relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi perhatian; jika yield meningkat, investor dapat memilih instrumen yang memberi imbal hasil dibanding emas yang tidak menghasilkan bunga.

Geraldo mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati data ekonomi AS seperti inflasi, data ketenagakerjaan, dan pidato pejabat The Fed. Apabila data tersebut mendorong ekspektasi kebijakan yang lebih dovish, tekanan terhadap emas bisa mereda dan membuka peluang rebound teknikal.

“Secara keseluruhan, prospek harga emas masih cenderung bearish dalam jangka pendek. Selama harga belum mampu menembus area MA 21 dan MA 34, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi dengan target pelemahan menuju area US$ 4.018 hingga US$ 3.972 per ons troi,” tutup Geraldo.