— Kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) anjlok pada Selasa, 30 Juni 2026, seiring penguatan nilai tukar ringgit dan penurunan harga minyak nabati pesaing di bursa internasional.

Penurunan juga dipengaruhi oleh koreksi harga minyak mentah dunia yang mengurangi daya tarik minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel, menurut data pasar.

Pergerakan Kontrak Berjangka

Pada penutupan Selasa, kontrak CPO untuk Juli 2026 turun 49 Ringgit Malaysia menjadi 4.474 Ringgit per ton. Untuk Agustus 2026, kontrak berkurang 40 Ringgit menjadi 4.518 Ringgit per ton.

Kontrak berjangka September 2026 melemah 42 Ringgit menjadi 4.546 Ringgit per ton, sementara Oktober 2026 turun 43 Ringgit menjadi 4.569 Ringgit per ton.

Kontrak November 2026 terpangkas 43 Ringgit menjadi 4.590 Ringgit per ton, dan Desember 2026 melemah 38 Ringgit menjadi 4.615 Ringgit per ton.

Sentimen Pasar

Data dari Tradingview menunjukkan sentimen negatif datang dari penurunan harga minyak mentah global di tengah harapan dimulainya pembicaraan antara AS dan Iran. Turunnya harga minyak mentah menekan daya tarik minyak nabati, termasuk CPO, untuk penggunaan biodiesel.

Meski demikian, pergerakan bulanan masih menunjukkan kenaikan tipis. Hingga akhir Juni, harga CPO tercatat naik sekitar 0,3% setelah sebelumnya mengalami dua bulan penurunan beruntun.

Permintaan dan Ekspektasi Pasokan

Penguatan harga bulan ini didorong oleh perbaikan permintaan global, kekhawatiran terhadap pasokan karena faktor cuaca, serta peningkatan mandat penggunaan biodiesel di sejumlah negara produsen utama.

Dari sisi permintaan, aktivitas ekonomi di China menunjukkan tanda pemulihan pada Juni, dengan sektor manufaktur dan jasa sama-sama mencatat ekspansi moderat, yang berpotensi meningkatkan konsumsi minyak nabati.

Secara kuartalan, harga CPO diperkirakan mengalami koreksi yang menghapus sebagian kenaikan hampir 20% pada kuartal pertama tahun ini.

Pelaku pasar kini menunggu data final ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang Juni dari perusahaan survei kargo sebagai petunjuk arah permintaan. Sebelumnya, pengiriman produk sawit Malaysia selama 25 hari pertama Juni tercatat meningkat antara 10,6% hingga 11,1% dibandingkan periode yang sama pada Mei.

Pergerakan harga CPO dalam jangka pendek diperkirakan masih dipengaruhi oleh perkembangan ekspor Malaysia, fluktuasi harga minyak mentah, pergerakan nilai tukar ringgit, serta prospek permintaan dari negara konsumen utama seperti China dan India.