— Tiga perempuan pelaku usaha, Bernika, Arina, dan Rachel, menjadi contoh bagaimana bisnis kecil yang dimulai dari rumah dapat mendorong pemberdayaan komunitas sekitar. Mereka tampil sebagai pemenang program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 yang digelar DANA Indonesia di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Produk mereka beragam: nugget buatan rumah, busana bermutu yang melibatkan perajin sulam setempat, dan minyak tradisional yang melestarikan resep turun-temurun. Kesemuanya berkembang dari inisiatif sederhana yang memanfaatkan keterampilan lokal dan sumber daya rumah tangga.

Peluang Dari Keterbatasan

Rachel Stefanie Halim, penyandang tuna netra, menceritakan awal usahanya. “Awalnya saya sering bikin nuget untuk anak saya. Saat pandemi, saya mencoba untuk menjualnya dan ternyata responnya bagus,” ujarnya.

Rachel mengatakan kemandiriannya meningkat setelah mendapat timbangan bicara khusus tuna netra. “Dari situ saya semakin mandiri dan menjadi inspirasi bagi teman-teman tuna netra untuk membuat usaha dengan mengajak teman-teman menjadi reseller,” tambahnya. Produk Rachel dipasarkan dengan nama Chicken Nugget Keraton.

Kolaborasi Dan Pemberdayaan Lokal

Arina Budi Uminiarti, desainer busana pemilik brand Alawana, bercerita awal kolaborasinya bermula saat seorang perempuan menawarkan taplak meja berbordir. Arina menilai hasil sulaman itu layak dikolaborasikan dengan rancangan busananya.

“Saya lalu tawarkan kolaborasi untuk menyulam busana saya. Rupanya di sekitar rumahnya ada beberapa ibu-ibu yang punya keterampilan menyulam sehingga akhirnya saya membuat program pemberdayaan untuk ibu-ibu itu,” kata Arina. Saat ini Arina bekerja sama dengan tujuh perajin dan berencana menambah hingga sepuluh perajin seiring pengembangan usaha.

Melestarikan Kearifan Lokal

Bernika Purba mengembangkan Minyak Kempu Karo sebagai upaya mempertahankan pengobatan tradisional Tanah Karo. “Saya menggunakan resep otentik keluarga dan bahan alami tanpa pengawet, produknya menghadirkan manfaat kesehatan sekaligus memperkenalkan kearifan lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Bernika.

Program SisBerdaya dan DisBerdaya

Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, menjelaskan bahwa SisBerdaya dan DisBerdaya merupakan program pemberdayaan pelaku UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas. Program ini menitikberatkan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kapasitas usaha dan mendorong kesetaraan ekonomi.

Menurut Vince, pemenang dinilai berdasarkan potensi pengembangan usaha, pemanfaatan teknologi, serta dampak sosial-ekonomi bagi komunitas dan lingkungan sekitar.

Jenis Dukungan dan Hasil Seleksi

Direktur Komunikasi DANA Indonesia, Olavina Harahap, menyebutkan program tahun ini menjangkau lebih dari 6.800 peserta. Semua mendapat akses materi pembelajaran online dan mengikuti tes akhir; dari situ terpilih 180 peserta terbaik yang diminta mengajukan proposal bisnis.

Dari 180 peserta muncul top 35 yang diundang ke Jakarta untuk menerima materi pelatihan offline selama dua hari. Materi meliputi pembelajaran bisnis, penggunaan AI, dan penguatan literasi keuangan. Para peserta juga mempresentasikan strategi bisnis, teknologi yang digunakan, konsep keberlanjutan, dan rencana program ke depan di hadapan juri sebelum ditetapkan para pemenang.

Bantuan dan Harapan Pengembang

Para pemenang menerima bantuan tunai dengan total mencapai ratusan juta rupiah untuk pengembangan usaha dan pemanfaatan teknologi. Rachel menyatakan harapannya: “Saya berharap bisa membesarkan usaha dan memiliki gerai offline sendiri.”

Olavina menambahkan harapannya agar para pemenang dapat memperbesar skala usaha dan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat di sekitar mereka. Berdasarkan evaluasi finalis periode 2023–2025, peserta mencatat rata-rata peningkatan pendapatan sebesar 113% dan pertumbuhan produksi sebesar 126% dalam enam bulan setelah mengikuti program.