— BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan biaya pakan pada semester II-2026 telah tercermin pada harga saham emiten perunggasan, termasuk Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), dan Malindo Feedmill Indonesia (MAIN). Meski demikian, rumah analis itu mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor tersebut.

Analis Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi menyebut kenaikan harga jagung domestik sebagian diimbangi oleh penggunaan gandum untuk pakan (feed wheat), yang diperkirakan mencapai 3,9% dari total formulasi pakan. Selain itu, biaya impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) relatif menguntungkan selama lima bulan pada 2026.

Alasan Rekomendasi Overweight

Victor mencatat rata-rata biaya impor turun 4% secara tahunan (year on year/yoy), meski harga SBM sejak awal tahun (year to date/ytd) meningkat 6%.

Meski menghadapi kenaikan biaya pakan, BRI Danareksa menilai valuasi sektor dinilai menarik dan ada potensi pemulihan harga ayam hidup di tingkat peternak (live bird/LB) sebagai katalis jangka pendek. “Pandangan positif tersebut didukung oleh valuasi yang menarik dan potensi pemulihan harga ayam hidup di tingkat peternak (LB) sebagai katalis jangka pendek,” tulis Victor dalam risetnya.

Proyeksi Laba dan Valuasi

Dalam cakupan analisanya, BRI Danareksa memperkirakan emiten perunggasan dapat membukukan laba bersih agregat sebesar Rp 1,6 triliun pada kuartal II-2026. Angka ini diproyeksikan turun 65% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), namun meningkat 77% secara tahunan.

Sektor perunggasan diperdagangkan pada valuasi 3,8 kali, atau berada di standar deviasi -1,5 dari rata-rata lima tahun terakhir. Menurut riset, kondisi ini menunjukkan valuasi saham sektor tersebut relatif lebih murah dibandingkan historis karena tercermin lemahnya harga ayam hidup dan tingginya biaya pakan.

Saham Pilihan dan Target Harga

  • BRI Danareksa tetap memilih CPIN sebagai saham pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 5.900.
  • JPFA direkomendasikan buy dengan target harga Rp 3.300, namun bukan pilihan utama.
  • MAIN juga direkomendasikan buy dengan target harga Rp 1.700, tetapi bukan pilihan utama.

Risiko yang Diidentifikasi

Risiko utama yang dicatat meliputi potensi terganggunya program MBG (Makan Bergizi Gratis), inflasi tinggi, dan depresiasi rupiah terhadap mata uang asing. Depresiasi rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku pakan yang dibayar dalam dolar AS, sehingga menambah tekanan pada margin emiten seperti CPIN, JPFA, dan MAIN.