Detak.Media — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengonfirmasi adanya 23 kasus Hantavirus jenis Seoul Virus di Indonesia dalam kurun tiga tahun terakhir (2024–Mei 2026). Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi dan sebagian besar menunjukkan gejala yang kerap menyerupai Demam Berdarah Dengue (DBD), tifus, hingga leptospirosis, sehingga berpotensi menyulitkan diagnosis awal.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa jenis yang ditemukan di Indonesia adalah Seoul Virus yang menyebabkan spektrum penyakit Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
“Gejala umumnya berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri badan, lemas berat (malaise), dan pada beberapa kasus muncul jaundice atau tubuh menguning serta gangguan fungsi ginjal,” ujarnya.
Penularan Berasal dari Paparan Tikus
Hantavirus merupakan virus zoonotik yang reservoir utamanya adalah hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel debu yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui permukaan benda yang tercemar.
Aji menegaskan, penularan antarmanusia sangat jarang terjadi dan umumnya hanya ditemukan pada tipe Hantavirus tertentu yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), bukan pada Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia.
Data Kemenkes menunjukkan peningkatan temuan kasus dalam dua tahun terakhir. Pada 2024 hanya ditemukan satu kasus. Angka ini meningkat menjadi 17 kasus sepanjang 2025. Hingga Mei 2026, lima kasus tambahan kembali terdeteksi.
Per 19 Juni 2025, Kemenkes sempat mengidentifikasi delapan kasus HFRS di empat provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Seluruh pasien pada periode tersebut dilaporkan sembuh setelah mendapatkan perawatan.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap virus ini.
“Ini virus lumayan berbahaya. Kami sudah koordinasi dengan WHO dan meminta dukungan untuk penguatan skrining,” ujarnya.
Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, menyoroti tantangan diagnosis Hantavirus di lapangan.
Menurutnya, gejala Hantavirus sangat mirip dengan leptospirosis, DBD, tifus, bahkan sepsis, sehingga tenaga kesehatan perlu memiliki kewaspadaan epidemiologis, terutama jika pasien memiliki riwayat paparan lingkungan yang kotor atau banyak tikus.
Upaya Pencegahan dan Kesiapsiagaan
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengingatkan bahwa pencegahan utama berada pada pengendalian lingkungan.
“Hindari kontak langsung maupun tidak langsung dengan tikus. Bersihkan lingkungan dari urin, kotoran tikus, serta sisa makanan yang dapat mengundang tikus,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa potensi penularan virus ini tidak akan masif seperti COVID-19 karena mekanisme penularannya berbeda.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes memperkuat sistem deteksi dini di pintu masuk negara dan kesiapan laboratorium dengan penyediaan reagen PCR untuk identifikasi Hantavirus. Langkah ini juga dikaitkan dengan laporan kasus Hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius yang sempat menjadi perhatian internasional.
Pada 8 Mei 2026, dua kasus suspek Hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta telah dipastikan negatif setelah pemeriksaan laboratorium lanjutan, dan pasien dinyatakan pulih.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, terutama area yang berpotensi menjadi sarang tikus, guna memutus risiko penularan Hantavirus dari sumber utamanya.
Ikuti Detak.Media
