Detak.Media — Wabah hantavirus kembali menjadi sorotan global setelah klaster kasus berat dilaporkan pada pelayaran ekspedisi MV Hondius. Otoritas kesehatan internasional menegaskan risiko publik tetap rendah, namun insiden tersebut mengingatkan bahwa hantavirus adalah infeksi zoonosis yang dapat berujung fatal bila tidak dikenali sejak dini.
Berikut penjelasan ringkas dan faktual mengenai apa itu hantavirus, bagaimana penularannya, gejalanya, serta langkah pencegahan yang disarankan otoritas kesehatan.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus dari famili Hantaviridae yang ditularkan terutama dari hewan pengerat ke manusia. Nama “Hanta” berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, lokasi identifikasi awal virus ini pada 1950-an.
Sebagian besar hantavirus tidak menular antarmanusia. Pengecualian penting adalah Andes hantavirus, strain langka di Amerika Selatan yang terbukti dapat menular melalui kontak sangat erat antar manusia.
Penularan paling umum terjadi saat manusia menghirup partikel virus (aerosol) dari:
- Urine, feses, atau air liur tikus yang mengering
- Debu di ruang tertutup yang terkontaminasi
- Kontak tangan ke mata, hidung, atau mulut setelah menyentuh permukaan terpapar
- Gigitan tikus (jarang)
Tikus pembawa hantavirus biasanya tidak tampak sakit, sehingga manusia sering tidak menyadari risiko paparan di gudang, loteng, lumbung, kabin, atau bangunan lama yang jarang dibersihkan.
Dua Sindrom Klinis Utama pada Manusia
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
Banyak ditemukan di Benua Amerika. Ini adalah bentuk paling mematikan.
Gejala awal (1–8 minggu setelah paparan):
- Demam tinggi, nyeri otot hebat, lemas
- Sakit kepala, mual, muntah, diare
Fase lanjut (4–10 hari kemudian):
- Batuk berat, sesak napas ekstrem
- Paru-paru terisi cairan (edema paru)
- Tekanan darah turun drastis, syok
- Gagal napas
Tingkat kematian HPS dilaporkan sekitar 30–60%.
Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
Lebih umum di Eropa dan Asia, menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Gejala:
- Demam tinggi, nyeri punggung dan perut
- Wajah kemerahan, pandangan kabur, ruam
- Perdarahan akibat kebocoran pembuluh darah
- Gagal ginjal akut, gangguan urin
Tingkat kematian bervariasi dari <1% hingga 15% tergantung strain.
Sejumlah studi observasional pada penyintas HFRS dan HPS menunjukkan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular dan penyakit ginjal kronis di kemudian hari. Mekanismenya masih diteliti, namun diduga terkait kerusakan pembuluh darah dan respons inflamasi berat saat fase akut.
Pengobatan: Fokus pada Perawatan Suportif
Belum ada antivirus spesifik yang terbukti efektif secara konsisten untuk hantavirus. Penanganan medis berfokus pada:
- Terapi oksigen dan ventilator (HPS berat)
- Pemantauan ketat cairan dan tekanan darah
- Dialisis pada kasus gagal ginjal (HFRS)
Karena itu, pencegahan menjadi kunci utama.
Cara Pencegahan yang Direkomendasikan
Langkah praktis yang disarankan otoritas kesehatan:
- Tutup celah rumah yang memungkinkan tikus masuk
- Simpan makanan dalam wadah kedap udara
- Jangan menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering
- Basahi area terkontaminasi dengan disinfektan/pemutih, diamkan, baru dibersihkan
- Gunakan masker N95 dan sarung tangan saat membersihkan gudang/ruang tertutup
- Buka ventilasi ruangan tertutup minimal 30 menit sebelum dibersihkan
Situasi Kewaspadaan di Indonesia
Melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kasus impor maupun paparan lokal.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan Indonesia berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk panduan skrining, pelacakan, dan kesiapan laboratorium.
- Hingga minggu ke-16 tahun 2026, dilaporkan dua kasus suspek di Jakarta Utara dan Kulon Progo (DIY) yang masih menunggu hasil laboratorium.
- Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 10 kasus konfirmasi hantavirus dari beberapa provinsi.
- Jaringan laboratorium PCR rujukan telah disiapkan untuk deteksi dini.
WHO menegaskan bahwa penularan antarmanusia sangat jarang, kecuali pada Andes hantavirus. Karena itu, risiko bagi masyarakat umum dinilai rendah selama tidak ada paparan langsung dengan sumber penularan.
Mengapa Wabah di MV Hondius Jadi Perhatian?
Kasus di MV Hondius menjadi perhatian karena diduga melibatkan Andes hantavirus di ruang tertutup dengan interaksi intens antarmanusia—situasi yang jarang terdokumentasi dalam konteks pelayaran internasional.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mobilitas global dan lingkungan tertutup dapat memperbesar risiko bila virus langka seperti ini tidak terdeteksi sejak dini.
Ikuti Detak.Media
