Detak.Media — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa Hantavirus tidak memiliki karakter penularan seperti COVID-19 dan tidak berpotensi menimbulkan pandemi global yang cepat menyebar di masyarakat.
Penegasan ini disampaikan pada Kamis, 7 Mei 2026, menyusul meningkatnya kekhawatiran publik setelah laporan kasus dugaan infeksi di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius, yang memicu perbandingan dengan pandemi COVID-19.
WHO: Tidak Ada Indikasi Hantavirus Akan Menjadi Pandemi
Kepala Kantor WHO wilayah Eropa, Hans Kluge, pada 4 Mei 2026 melalui platform X, menegaskan bahwa Hantavirus umumnya berasal dari paparan lingkungan, terutama kontak dengan urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi.
“Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau melakukan pembatasan perjalanan,” ujar Kluge.
Ia menambahkan bahwa meski infeksi dapat bersifat serius, Hantavirus tidak mudah menular antarmanusia seperti virus pernapasan lain.
Sehari kemudian, Direktur Kesiapan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, Dr. Maria Van Kerkhove, turut memberikan klarifikasi. Ia mengakui adanya kemungkinan penularan antarmanusia pada kondisi sangat spesifik, seperti kontak erat berkepanjangan yang diduga terjadi dalam beberapa kasus di kapal MV Hondius.
“Ini bukan COVID berikutnya. Ini penyakit infeksi serius, tetapi kebanyakan orang tidak akan terpapar.”
Perbedaan Mendasar Hantavirus dan COVID-19
WHO menekankan bahwa kekhawatiran publik muncul karena kesalahpahaman terhadap cara penularan kedua virus.
1. Cara Penularan
Hantavirus
- Menular dari hewan pengerat ke manusia
- Melalui aerosol dari urine, feses, atau air liur tikus
- Penularan antarmanusia sangat jarang dan hanya pada kondisi tertentu (misalnya Andes hantavirus)
COVID-19
- Menular sangat mudah antarmanusia
- Melalui droplet dan aerosol pernapasan
- Dapat menyebar cepat dalam skala global
2. Tingkat Penyebaran
- Hantavirus: penyebaran terbatas, tidak mudah menular antar manusia
- COVID-19: memiliki kemampuan transmisi tinggi, sehingga memicu pandemi global sejak 2020
3. Tingkat Keparahan
Salah satu bentuk paling serius Hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), memiliki tingkat fatalitas yang dilaporkan berkisar 30–40% bahkan dapat melebihi 50% pada kasus tertentu.
Sebagai perbandingan, COVID-19 memiliki tingkat fatalitas rata-rata sekitar 0,5–2%, namun menyebabkan jumlah kematian jauh lebih besar secara global karena penyebarannya yang sangat cepat.
Kasus MV Hondius Jadi Sorotan, Tapi Risiko Tetap Dinilai Rendah
Insiden kesehatan di kapal MV Hondius menjadi perhatian karena munculnya dugaan infeksi Andes hantavirus, salah satu strain yang dikenal memiliki potensi penularan antarmanusia dalam kondisi sangat dekat.
Meski demikian, WHO menegaskan bahwa situasi tersebut bersifat terbatas dan tidak mencerminkan ancaman penyebaran luas di populasi umum.
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin khusus maupun terapi antivirus yang secara spesifik menargetkan Hantavirus.
Penanganan medis masih berfokus pada:
- Perawatan suportif
- Dukungan pernapasan pada kasus HPS berat
- Dialisis pada kasus gangguan ginjal akibat HFRS
WHO menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, terutama dengan mengurangi kontak manusia dengan hewan pengerat dan lingkungan terkontaminasi.
WHO menegaskan bahwa Hantavirus memang serius dan berpotensi fatal, namun tidak memiliki karakter penularan cepat seperti COVID-19.
Dengan mekanisme penularan yang berbeda secara fundamental, risiko pandemi global dinilai sangat rendah. Fokus utama saat ini adalah pengendalian lingkungan dan deteksi dini kasus, bukan pembatasan massal seperti yang terjadi pada pandemi sebelumnya.
Ikuti Detak.Media
