Detak.media — Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026), meski tren utamanya masih dibayangi tekanan bearish. Analis menilai logam mulia berpotensi kembali menanjak ke level penting setelah mampu bertahan di area support krusial.
Pada saat berita ini ditulis, harga emas tercatat naik 0,37% ke US$ 4.015,84 per ons troi.
Respons Harga Setelah Tersentuh Support
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, harga emas mulai menunjukkan respons positif setelah tertahan di level US$ 3.982 per ons troi. Kondisi tersebut membuka peluang penguatan jangka pendek menuju area resistance US$ 4.039-4.063 per ons troi.
“Selama area support US$ 3.982 per ons troi mampu bertahan, harga emas masih berpeluang naik menguji resistance di kisaran US$ 4.039 per ons troi hingga US$ 4.063 per ons troi,” ujar Geraldo dalam risetnya, Selasa (14/7/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan tersebut masih bersifat koreksi teknikal dan belum menjadi sinyal perubahan tren. Struktur pergerakan emas pada grafik empat jam (H4) masih menunjukkan dominasi tekanan jual.
Menurut Geraldo, terbentuknya swing low di area support menjadi indikasi awal munculnya kembali minat beli (buyer). Namun, apabila harga gagal menembus area resistance US$ 4.039-4.063 per ons troi dan kembali mengalami penolakan (rejection), tren bearish diperkirakan berlanjut.
Sebaliknya, jika harga mampu menembus level tersebut dengan dukungan volume transaksi yang kuat, peluang penguatan yang lebih besar mulai terbuka, meski masih memerlukan konfirmasi lanjutan.
Tekanan Kebijakan The Fed dan Faktor Lain
Selain faktor teknikal, Geraldo menilai prospek harga emas masih dibatasi ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Kebijakan moneter ketat membuat aset berbasis dolar AS lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Aksi Akumulasi
E mas [#pagebreak#]
Meski begitu, Geraldo menegaskan, pelemahan harga emasyang cukup dalam dinilai mulai memicu aksi buy on dip dari sebagian pelaku pasar. Aksi akumulasi emas tersebut berpotensi menopang penguatan harga emas dalam jangka pendek.
Di sisi lain, lanjut dia, ketidakpastian geopolitik global juga masih menjadi faktor yang menopang permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Geraldo mengingatkan, investor untuk terus mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, seperti inflasi, imbal hasil obligasi pemerintah (US Treasury Yield), pergerakan indeks dolar AS, serta pidato pejabat The Fed. “Data tersebut diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan harga emas dalam beberapa sesi ke depan,” tambah Geraldo.
Secara keseluruhan, Geraldo menilai, prospek harga emas masih berada dalam tren bearish. Namun, selama level support US$ 3.982 per ons troi tetap terjaga, peluang technical rebound menuju area US$ 4.039-4.063 per ons troi masih terbuka sebelum pasar menentukan arah berikutnya.
Ikuti Detak.media
