— Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak ke Kebun Perbenihan Kopi Rimba Raya KM 60, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Selasa (14/7/2026). Sidak bertujuan memastikan kualitas bibit kopi sebagai dasar peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani serta memperkuat posisi Kopi Gayo di pasar global.

Dalam kunjungan itu Amran menyatakan puas terhadap pengelolaan pembibitan yang dinilai sangat baik dan menjadi tonggak untuk menghasilkan kebun produktif yang meningkatkan pendapatan petani jangka panjang.

Amran mengapresiasi pihak yang terlibat dalam program pembibitan. “Kami sangat puas. Pembibitannya sangat bagus, betul-betul dikawal. Saya mengapresiasi Direktur, jajaran di wilayah Aceh, dan para PPL yang bekerja dengan baik mendampingi petani,” katanya saat memberikan keterangan di Aceh, Selasa (14/7/2026).

Pemerintah telah mengalokasikan bantuan pengembangan kopi di Aceh seluas sekitar 17 ribu hektare dengan total 17 juta batang bibit kopi. Menurut laporan pemerintah daerah, program ini diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan pekebun hingga Rp 4 triliun.

“Insyaallah tahun depan kita tingkatkan lagi. Yang penting tanaman ini dirawat dengan baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” ujar Amran.

Amran menilai potensi Kopi Gayo tidak hanya dari kualitas tetapi juga pengakuan internasional terhadap komoditas Aceh tersebut. Ia mengenang pengalaman berkesan saat kunjungan ke Meksiko dan Argentina, termasuk pertemuannya dengan mantan Presiden AS Bill Clinton, yang menurutnya membahas Kopi Gayo.

“Kopi ini sudah mendunia. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina, saya bertemu Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton. Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia. Karena itu kita harus terus membantu petani kopi, termasuk di Aceh,” kata Amran.

Menurut Amran, penguatan sektor hulu melalui penyediaan bibit berkualitas adalah langkah strategis untuk memperbesar produksi sekaligus meningkatkan daya saing Kopi Gayo di pasar internasional. Ia optimistis komoditas unggulan Aceh itu dapat menjadi motor penggerak ekspor perkebunan nasional.

“Bagaimana Kopi Gayo menggetarkan dunia. Bila perlu seluruh dunia mencicipi Kopi Gayo. Sekarang nilai ekspor kopi kita sudah mencapai sekitar Rp 40 triliun. Ke depan harus kita dorong menjadi Rp100 triliun, bahkan kalau bisa Rp 200 triliun. Potensinya sangat besar,” tegas Amran.

Amran juga menyoroti peluang dari kenaikan harga kopi. Saat ini harga kopi berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram, naik dibandingkan sebelumnya sekitar Rp 50 ribu per kilogram. Kenaikan ini, menurutnya, membuka peluang meningkatkan kesejahteraan petani.

Untuk itu pemerintah akan memperkuat produksi dan memperbaiki tata niaga agar nilai tambah lebih banyak dinikmati petani.

Pemerintah Gencar Perkuat Ekspor Nasional

Amran menyampaikan pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan penguatan sistem ekspor nasional agar Indonesia memiliki posisi tawar lebih kuat di pasar global. Melalui sistem tersebut, Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan baku tetapi juga mampu menentukan harga berbagai komoditas unggulan, termasuk kopi.

“Kita ingin Indonesia sebagai produsen memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Nilai tambah komoditas harus kembali kepada petani dan negara sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” ujarnya.

Menutup kunjungannya, Amran memastikan dukungan pemerintah untuk pengembangan Kopi Gayo akan dilanjutkan pada tahun depan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani agar Aceh semakin kokoh sebagai salah satu sentra kopi terbaik dunia.

“Potensinya sangat besar. Masyarakatnya pekerja keras, pemerintah daerah juga sangat mendukung. Karena itu, tahun depan kita bantu lagi agar Kopi Gayo semakin maju dan petaninya semakin sejahtera,” pungkas Amran.