— Penyesuaian tarif dan perubahan pola operasi di Pelabuhan Batam sebaiknya dipandang sebagai instrumen peningkatan produktivitas dan konektivitas jangka panjang, bukan sekadar kenaikan biaya jangka pendek. Pandangan ini disampaikan oleh akademisi logistik Politeknik Batam, Dian Mulyaningtyas.

Dian menyatakan bahwa teori Port Competitiveness dan New Institutional Economics menempatkan peran investasi infrastruktur, kualitas layanan, dan tata kelola operasional yang berkelanjutan sebagai faktor penentu efisiensi pelabuhan.

Data Operasional Pelabuhan

Menurut data yang dikemukakan Dian, transformasi Pelabuhan Batu Ampar menunjukkan peningkatan kinerja. Volume peti kemas di Batam naik dari 624.061 TEUs pada 2023 menjadi 673.343 TEUs pada 2024, atau tumbuh sekitar 8%.

Terminal Batu Ampar disebut menangani sekitar 84% dari total throughput tersebut. Selain itu, layanan direct call internasional di Batu Ampar dilaporkan meningkat 212% pada periode Januari–Mei 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan volume peti kemas sebesar 125%.

Pandangan Akademis Terhadap Penyesuaian Tarif

“Pencapaian ini mengindikasikan bahwa pasar merespons positif peningkatan kualitas layanan dan konektivitas, sehingga argumentasi bahwa penyesuaian tarif secara otomatis menurunkan daya saing perlu dikaji secara lebih komprehensif dan berbasis data empiris,” ujar Dian melalui keterangan resminya pada Kamis (2/7/2026).

Dian menegaskan bahwa dalam persaingan pelabuhan ASEAN, daya saing tidak ditentukan oleh tarif rendah semata, melainkan oleh kemampuan menyediakan layanan andal, frekuensi pelayaran tinggi, waktu tunggu rendah, dan konektivitas global yang kuat.

Ia merujuk pada laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) tahun 2023 yang memaparkan pengalaman pelabuhan hub di ASEAN—seperti PSA (Singapura), Port Klang (Malaysia), dan Cai Mep–Thi Vai (Vietnam)—bahwa reformasi tarif dan restrukturisasi operasi biasanya menjadi tahap sebelum peningkatan konektivitas dan volume perdagangan.

Strategi Reinvestasi dan Modernisasi

Dian menyatakan bahwa beberapa negara dengan konektivitas pelayaran tinggi di ASEAN mengoperasikan struktur tarif yang mendukung reinvestasi berkelanjutan pada infrastruktur dan digitalisasi. Ia juga menyebut hubungan positif antara peningkatan konektivitas pelayaran dengan penurunan biaya logistik total dan kenaikan volume perdagangan.

“Dengan demikian, strategi BP Batam untuk memperkuat kapasitas dan efisiensi operasional melalui penyesuaian tarif merupakan pendekatan yang konsisten dengan praktik terbaik pelabuhan internasional,” kata Dian.

Ia menambahkan bahwa fokus utama adalah memastikan peningkatan penerimaan diterjemahkan secara transparan menjadi investasi infrastruktur, digitalisasi, peningkatan produktivitas, dan perluasan konektivitas internasional.

Dian menutup pernyataannya dengan menilai bahwa jika reformasi dijalankan konsisten, Batam berpotensi mengikuti jejak pelabuhan-pelabuhan transhipment dan gateway terkemuka di ASEAN yang meningkatkan daya saing melalui kombinasi reformasi tarif, investasi, dan modernisasi tata kelola pelabuhan.