Detak Media — Keluhan mobil listrik yang terasa lebih boros dari klaim pabrikan kerap muncul, terutama dari pengguna baru. Padahal, secara teknis kendaraan listrik dikenal jauh lebih efisien dibandingkan mobil bermesin pembakaran dalam. Fenomena ini ternyata lebih banyak dipengaruhi kebiasaan mengemudi dan pola operasional harian yang tanpa disadari mempercepat konsumsi energi baterai.
Dosen Teknik Mesin dari Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa kesan boros muncul ketika energi baterai yang terpakai tidak sebanding dengan jarak tempuh aktual di jalan.
“Misalnya klaim 500 kilometer, namun di pemakaian nyata hanya tercapai 300 kilometer atau bahkan kurang,” ujarnya.
Menurutnya, selisih tersebut bukan semata kesalahan spesifikasi, melainkan dipicu cara kendaraan dioperasikan.
Gaya Mengemudi Agresif Paling Menguras Energi
Akselerasi mendadak dan pengereman keras berulang kali menjadi faktor terbesar pemborosan daya pada mobil listrik. Karakter torsi instan memang membuat mobil listrik terasa sangat responsif sejak pedal diinjak. Namun, justru di fase awal bergerak dari posisi diam inilah motor listrik menarik arus paling besar dari baterai.
Semakin sering pengemudi melakukan akselerasi keras dari kondisi berhenti, semakin cepat energi baterai terkuras. Pola stop-and-go agresif di kemacetan kota menjadi salah satu penyebab utama jarak tempuh menyusut drastis.
Kecepatan Tinggi di Tol Turunkan Jarak Tempuh Signifikan
Banyak pengguna tidak menyadari bahwa mobil listrik sangat sensitif terhadap kecepatan tinggi. Hambatan angin meningkat secara eksponensial seiring pertambahan kecepatan.
Secara teknis, peningkatan kecepatan dari 100 km/jam ke 120 km/jam saja dapat memangkas jarak tempuh baterai hingga sekitar 20–25 persen. Ini karena motor listrik harus berputar pada rpm lebih tinggi dan inverter bekerja lebih keras mengubah arus DC baterai menjadi AC untuk motor, yang memunculkan rugi-rugi konversi (switching losses).
Berbeda dengan mobil bensin yang memiliki beberapa rasio gigi, mayoritas mobil listrik menggunakan transmisi satu percepatan, sehingga beban kerja motor di kecepatan tinggi jauh lebih berat.
AC dan Sistem Pengatur Suhu Jadi Konsumen Daya Besar
Sistem pendingin kabin merupakan konsumen daya terbesar kedua setelah motor penggerak. Penggunaan AC terus-menerus pada suhu rendah bisa memangkas jarak tempuh hingga 10–20 persen.
Pada negara dengan iklim dingin, penggunaan pemanas kabin bahkan bisa menurunkan efisiensi lebih dari 30 persen karena energi listrik dipakai langsung untuk menghasilkan panas.
Di iklim tropis seperti Indonesia, penggunaan suhu terlalu dingin serta kipas maksimum dalam waktu lama tetap berdampak signifikan pada konsumsi baterai mobil listrik.
Regenerative Braking Sering Tidak Dimaksimalkan
Mobil listrik dibekali fitur regenerative braking yang mengubah energi gerak saat deselerasi menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai. Namun fitur ini tidak bekerja optimal jika pengemudi terbiasa mengerem mendadak.
Regenerasi paling efektif terjadi saat pengemudi melepas pedal gas lebih awal dan membiarkan mobil melambat secara bertahap. Di jalan tol yang cenderung konstan tanpa banyak perlambatan, kesempatan mengisi ulang energi ini juga menjadi minim.
Salah Memilih Mode Berkendara
Mode “Sport” membuat mobil terasa lebih bertenaga karena respons pedal dipertajam dan arus listrik yang ditarik motor lebih besar. Penggunaan mode ini dalam keseharian mempercepat konsumsi baterai.
Sebaliknya, mode “Eco” dirancang untuk efisiensi dengan membatasi akselerasi, melembutkan respons pedal, serta mengoptimalkan kerja sistem pendingin kabin.
Cara Mengemudi yang Bisa Mengembalikan Efisiensi
Untuk mendapatkan jarak tempuh mendekati klaim pabrikan, pengemudi disarankan:
- Berakselerasi halus dan bertahap
- Menjaga kecepatan konstan, idealnya sekitar 80–90 km/jam di tol
- Memanfaatkan cruise control
- Mengatur suhu AC di kisaran 24–25°C dengan mode resirkulasi
- Melepas pedal gas lebih awal saat akan melambat
- Menggunakan mode “Eco” untuk pemakaian harian
Selain itu, menjaga level baterai di rentang 20–80 persen untuk penggunaan rutin serta tidak terlalu sering memakai DC fast charging juga membantu menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang.
Dengan perubahan kebiasaan sederhana ini, pemilik mobil listrik dapat memaksimalkan efisiensi energi, menjaga jarak tempuh tetap optimal, sekaligus memperpanjang usia pakai baterai kendaraan.
Ikuti Detak Media
