Detak Media — PT Toyota Astra Motor (TAM) menyatakan dukungan terhadap rencana pemerintah meningkatkan insentif pembelian mobil listrik berbasis baterai nikel pada semester II 2026. Kebijakan ini dinilai penting untuk mendorong hilirisasi nikel sekaligus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.
Marketing Director TAM, Bansar Maduma, menegaskan perusahaan akan mengikuti dan mendukung kebijakan yang dirancang pemerintah untuk kemajuan industri otomotif. Menurutnya, langkah mengaitkan insentif dengan pemanfaatan nikel domestik selaras dengan upaya membangun fondasi industri masa depan.
Rencana pembedaan skema insentif berdasarkan kimia baterai sebelumnya disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Skema tersebut membedakan perlakuan baterai mobil listrik berbasis nikel (seperti NMC/NCA) dengan non-nikel (seperti LFP). Perhitungan teknisnya disebut akan dimatangkan oleh Kementerian Perindustrian agar insentif mendorong pemakaian nikel dalam negeri.
Kesiapan Industri Hulu–Hilir Jadi Catatan
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Nandi Julyanto, sebelumnya menyatakan kesiapan mengikuti regulasi apa pun yang ditetapkan pemerintah. Namun ia mengingatkan, kesiapan industri baterai dari hulu ke hilir perlu diperhatikan, mengingat produksi baterai nikel membutuhkan investasi besar, penguasaan teknologi, serta SDM terlatih.
Indonesia sendiri telah membangun fondasi rantai pasok baterai melalui proyek terintegrasi dari penambangan, pemurnian, hingga manufaktur sel baterai. Sejumlah kawasan industri berbasis nikel di Sulawesi dan Maluku Utara menjadi tulang punggung pasokan bahan baku, sementara fasilitas perakitan baterai dan kendaraan listrik mulai bertumbuh di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ekosistem Elektrifikasi dan Ragam Teknologi Baterai
Pemerintah menargetkan skema insentif baru untuk Battery Electric Vehicle (BEV) berlaku pada paruh kedua 2026. Insentif lebih besar untuk baterai nikel dipandang selaras dengan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia.
Sejumlah produsen yang telah memasarkan EV di Indonesia merespons positif arah kebijakan ini.
Hyundai Motor Company misalnya, memiliki model EV dengan baterai berbasis nikel pada lini globalnya. Di sisi lain, BYD Company Limited yang mengandalkan baterai LFP (Lithium Ferro Phosphate) juga menyatakan dukungan, sembari menekankan bahwa kedua teknologi baterai memiliki peran dalam strategi elektrifikasi jangka panjang.
Perbedaan kimia baterai ini berimplikasi pada karakteristik produk. Baterai nikel umumnya unggul pada kepadatan energi dan jarak tempuh, sedangkan LFP dikenal lebih stabil secara termal dan efisien biaya. Pemerintah dinilai berupaya menyeimbangkan kebutuhan hilirisasi dengan keberagaman teknologi yang tersedia di pasar.
Pandangan Industri: Hybrid Juga Perlu Diperhatikan
Wakil Presiden Direktur TAM, Jap Ernando Demily, sebelumnya juga mengemukakan pandangan agar kebijakan insentif tidak hanya terfokus pada BEV murni. Menurutnya, teknologi elektrifikasi lain seperti hybrid electric vehicle (HEV) juga berkontribusi signifikan pada penurunan emisi dan lebih siap diterima pasar dalam masa transisi.
Pandangan ini mencerminkan strategi multi-pathway yang kerap disuarakan Toyota secara global, yakni mendorong berbagai teknologi rendah emisi berjalan berdampingan sesuai kesiapan infrastruktur dan daya beli konsumen.
Pengamat industri menilai kebijakan insentif berbasis nikel sebagai langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok baterai domestik. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi regulasi, kesiapan industri pendukung, transfer teknologi, serta kepastian investasi jangka panjang.
Jika seluruh mata rantai—dari tambang nikel, pemurnian, produksi sel baterai, hingga manufaktur kendaraan—dapat terintegrasi, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi pasar EV, tetapi juga basis produksi penting dalam peta industri kendaraan listrik global.
Ikuti Detak Media
