— World Gold Council (WGC) menilai harga emas masih menyimpan potensi kenaikan yang signifikan untuk sisa tahun 2026, meski logam mulia itu sebelumnya anjlok dari sekitar US$5.500 per troy ounce ke bawah US$4.000 pada akhir Juni 2026.

Dalam laporan prospek emas semesteran, penulis WGC menyatakan level harga saat ini mencerminkan pertumbuhan global yang moderat, inflasi yang menurun tetapi tetap tinggi, serta ekspektasi pengetatan kebijakan bank sentral lebih lanjut.

Penulis laporan—Juan Carlos Artigas, Taylor Burnette, dan Dr. Fergal O’Connor—memproyeksikan beberapa skenario yang dapat mengangkat kembali harga emas. Mereka menyebut pelemahan ekonomi, guncangan geopolitik, pergeseran ekspektasi suku bunga ke tingkat yang lebih rendah, atau gelombang pembelian saat harga turun sebagai pendorong potensial menuju level US$4.500 per troy ounce pada 2026.

“Jika sinyalnya kuat, emas bisa naik lebih tinggi lagi. Sebaliknya, lingkungan pertumbuhan yang tangguh, kenaikan imbal hasil, dan pasar yang lebih tenang dapat menyebabkan emas turun lebih jauh, meskipun penurunan lebih dari 10% dari level saat ini mungkin diredam oleh permintaan pembelian murah,” demikian pernyataan mereka.

WGC juga menggarisbawahi peran permintaan bank sentral dan kebijakan pasar utama seperti India sebagai faktor yang dapat mengubah lintasan harga emas pada paruh kedua tahun ini.

Aksi Beli Emas Bank Sentral Menjadi Pendukung Penting

Dalam laporan tersebut, WGC menilai pembelian emas oleh bank sentral tetap menjadi kontributor penting terhadap kinerja pasar. Sejak 2022, bank sentral rata-rata membeli sekitar 1.000 ton emas per tahun.

Penulis mencatat bahwa pada kuartal pertama tahun ini beberapa bank sentral melakukan penjualan atau penukaran secara taktis. Meski demikian, perkiraan awal menunjukkan bank sentral kemungkinan tetap menjadi pembeli bersih tahun ini, walau laju pembelian menimbulkan pertanyaan.

WGC mencatat bahwa meskipun harga emas turun sekitar 7% year-to-date, angka agregat itu menutupi fluktuasi ekstrem—naik ke US$5.500 lalu turun ke bawah US$4.000 per troy ounce. Perubahan tersebut memicu volatilitas harga yang sempat melampaui 50% seiring meningkatnya volatilitas lintas aset pada awal konflik AS-Iran.

Sejak puncak volatilitas itu, tekanan turun; volatilitas harga emas merosot di bawah 30% namun masih melampaui rata-rata 20 tahunan sebesar 17%.

Menurut analisis WGC, jika kondisi saat ini tidak berubah secara signifikan, emas kemungkinan akan diperdagangkan di kisaran ±5% sekitar US$4.100 per troy ounce selama paruh kedua tahun ini, sambil tetap dipengaruhi oleh dinamika suku bunga, dolar AS, serta permintaan dari institusi besar.