— Warren Buffett mengingatkan bahwa mengikuti tren investasi yang sudah melambung berisiko besar bagi investor yang datang terlambat. Dalam kutipan dari The Essays of Warren Buffett: Lessons for Corporate America, ia menulis, “Apa yang dilakukan orang bijak di awal, akan dilakukan oleh orang bodoh di akhir.”

Kutipan yang dikutip oleh Investopedia pada 13 Juli 2026 itu menegaskan perbedaan antara investor yang melakukan analisis mendalam dan membeli aset bernilai rendah (undervalued) dengan mereka yang masuk saat euforia, terdorong oleh dorongan untuk cepat meraih keuntungan.

Perbedaan Antara Investor Bijak dan Pengikut Tren

Menurut interpretasi atas prinsip Buffett, “orang bijak” membeli berdasarkan riset dan menunggu pasar mengakui nilai sebenarnya dari aset. Sebaliknya, “orang bodoh” cenderung membeli setelah melihat kisah sukses orang lain, tanpa mempertimbangkan fundamental, sehingga sering berakhir membeli di puncak harga.

Buffett mengaitkan pola ini dengan dua emosi pasar: fear (ketakutan) dan greed (keserakahan). Ia menekankan pentingnya fokus pada nilai intrinsik perusahaan dan menahan godaan mengikuti momentum jangka pendek.

Pola Sejarah Yang Berulang

Beberapa contoh yang disorot dalam penjelasan mengenai fenomena ini meliputi akhir era dotcom pada akhir 1990-an, saat euforia membuat investor ritel membeli perusahaan internet tanpa memperhatikan fundamental, lalu banyak perusahaan teknologi gagal setelah gelembung pecah.

Pola serupa terjadi pada demam aset kripto, di mana investor awal yang memahami teknologi dan bersabar meraih keuntungan, sedangkan banyak investor yang masuk pada puncak mengalami kerugian saat terjadi panic selling.

Mengapa Ikut-Ikutan Kini Lebih Cepat Menyebar

Perkembangan teknologi dan kehadiran aplikasi investasi membuat siapa saja bisa melakukan transaksi instan dengan modal kecil. Kondisi itu diperparah oleh munculnya influencer keuangan di media sosial yang kerap memberi rekomendasi tanpa dasar analisis jelas.

Dalam beberapa kasus, ajakan membeli turut mengangkat aset yang sudah dimiliki oleh pemberi rekomendasi, sementara konflik kepentingan semacam itu jarang diungkapkan. Rasa takut tertinggal tren (Fear of Missing Out atau FOMO) sering melumpuhkan logika investor pemula.

Pesan Buffett: Investasi Butuh Disiplin

Pesan Buffett sederhana: investasi bukan soal mengikuti kerumunan. Keberhasilan jangka panjang menuntut riset mandiri, membeli pada harga yang wajar, menjual saat harga tinggi, dan kesabaran.

Buffett memopulerkan strategi value investing yang ia pelajari dari mentornya, Benjamin Graham. Ia melihat saham sebagai kepemilikan atas bisnis nyata, memilih perusahaan dengan keunggulan kompetitif jangka panjang (economic moat) dan manajemen yang dapat dipercaya.

Rekam jejak Buffett bersama Berkshire Hathaway disebut sebagai bukti bahwa keteguhan pada prinsip nilai dan kehati-hatian dalam memilih sektor yang dipahami dapat mengungguli pasar dalam jangka panjang.