— Di tengah rekor tertinggi pasar saham AS, Warren Buffett memilih langkah kontras: menarik dana besar-besaran dari pasar ketimbang menambah paparan. Penjualan bersih saham oleh Buffett berlangsung selama 13 kuartal berturut-turut hingga akhir 2025.

Perhitungan berdasarkan laporan SEC menunjukkan nilai bersih saham yang dijual Berkshire Hathaway selama periode tersebut mencapai sekitar US$ 187 miliar (sekitar Rp 3.384,1 triliun). Langkah ini terjadi saat indikator favorit Buffett menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah dan melampaui ambang yang pernah ia sebut sebagai area berbahaya.

Lonjakan Cadangan Kas Berkshire

Kepemilikan uang tunai dan surat utang jangka pendek (Treasury bills) milik Berkshire Hathaway mengalami kenaikan tajam. Dari sekitar US$ 100 miliar pada awal tren pasar bergairah akhir 2022, jumlah tersebut melonjak menjadi rekor US$ 397,4 miliar pada awal 2026.

Cadangan kas ini kini merepresentasikan lebih dari sepertiga dari total nilai pasar konglomerat tersebut. Sepanjang kuartal I-2026, Berkshire kembali menjadi penjual bersih dengan selisih penjualan dibanding pembelian saham mencapai lebih dari US$ 8 miliar.

Dana tunai yang belum diinvestasikan itu ditempatkan pada surat utang pemerintah berjangka pendek yang menghasilkan pendapatan bunga tahunan sekitar US$ 12 miliar dengan imbal hasil di kisaran 3,7%.

Perkataan Buffett dan Kekhawatiran Spekulasi

Warren Buffett menyoroti tingginya aktivitas spekulasi di pasar. “Kita belum pernah melihat orang-orang berada dalam suasana hati yang lebih gemar berjudi daripada saat ini,” ujarnya. Ia mengamati maraknya spekulasi melalui opsi saham harian (one-day options).

Indikator Valuasi Memasuki Zona Merah

Salah satu alat ukur yang mendapat perhatian adalah rasio kapitalisasi pasar saham AS terhadap produk domestik bruto (PDB), atau yang dikenal sebagai Buffett Indicator. Buffett pernah menyebutnya sebagai mungkin satu-satunya alat terbaik untuk menilai posisi valuasi pasar pada suatu momen.

Sejak 1970, rata-rata historis indikator ini berada di angka 88%. Namun data historis menunjukkan rasio tersebut meroket ke rekor penutupan tertinggi sebesar 238,5%, atau sekitar 171% di atas rata-rata normalnya. Hingga awal Juli 2026, angka itu bertahan di atas 235%, jauh melampaui batas psikologis 200% yang pernah diperingatkan Buffett.

Indikator kedua yang menguatkan kekhawatiran adalah rasio harga terhadap pendapatan Shiller P/E (CAPE ratio) untuk indeks S&P 500, yang tercatat di level 41,6 — menjadikannya pasar saham termahal kedua dalam sejarah sejak Januari 1871. Secara historis, setiap kali rasio ini menembus angka 30, pasar kerap mengalami koreksi atau penurunan tajam sebesar 20% atau lebih pada setidaknya satu indeks saham utama AS.

Martin Romo, Ketua sekaligus Chief Investment Officer Capital Group, menilai kondisi pasar mengharuskan pendekatan selektif. “Saya percaya pentingnya pemilihan saham secara aktif, yang didukung oleh riset mendalam, kini menjadi jauh lebih krusial dibanding sebelumnya,” ungkap Romo.

Strategi Investasi Baru di Bawah Kepemimpinan Greg Abel

CEO baru Berkshire Hathaway, Greg Abel, menyatakan cadangan kas besar dimaksudkan sebagai strategi yang disengaja. Ia menegaskan perusahaan tidak akan mempertaruhkan kemandirian finansialnya demi mengejar kesepakatan di pasar yang harganya sudah terlalu mahal.

“Kami tidak berniat untuk bergantung atau berutang budi kepada siapa pun. Kami memulai segala sesuatunya dari prinsip dasar itu,” tegas Abel.

Meski menahan belanja di pasar umum, Abel melakukan beberapa langkah selektif: akuisisi pengembang rumah Taylor Morrison senilai US$ 8,5 miliar, komitmen investasi US$ 10 miliar di Alphabet, serta memulai kembali program pembelian kembali saham (share buyback) Berkshire dengan alokasi sekitar US$ 234 juta.

Catatan Historis dan Implikasi Jangka Panjang

Meskipun valuasi pasar saat ini mencerminkan kondisi yang mirip gelembung, sejumlah analis mengingatkan bahwa indikator seperti Shiller P/E dan Buffett Indicator berfungsi lebih sebagai alat prediksi jangka panjang, bukan penentu waktu jatuhnya pasar dalam waktu dekat.

Rekam jejak Buffett menunjukkan logika di balik strategi menumpuk kas: kemampuan membeli aset bernilai saat krisis terjadi karena memegang cadangan kas besar ketika banyak investor lain kehabisan modal. Strategi “cash-rich” ini membantu Berkshire melewati krisis seperti Dot-Com Bubble 2000 dan Krisis Keuangan Global 2008.

Fenomena penumpukan kas raksasa ini merefleksikan kecemasan di kalangan investor institusional terhadap keberlanjutan reli pasar yang didorong oleh euforia teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Saat pasar panik dan likuiditas mengering, Berkshire berpotensi bertindak sebagai penyedia likuiditas terakhir (lender of last resort) sekaligus mengakusisi perusahaan berkualitas dengan diskon besar.

Ujian Transisi Kepemimpinan

Mundurnya Buffett dari operasional harian pada akhir 2025 menjadi ujian terbesar bagi Greg Abel. Abel harus membuktikan bahwa disiplin investasi value investing ala Omaha tetap relevan di era pasar modern yang semakin spekulatif.