Detak.media — Indeks saham Wall Street berakhir menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026) waktu setempat, terdorong oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan dan reli saham-saham semikonduktor.
S&P 500 naik 0,38% ke 7.543,59, sementara Nasdaq Composite menguat 0,9% menjadi 26.107,01. Dow Jones Industrial Average hanya bertambah 9,63 poin (0,02%) ke posisi 52.508,27.
Penguatan pasar sebagian tertahan oleh anjloknya saham IBM hingga 25% setelah perusahaan memperingatkan laba kuartal II-2026 akan berada di bawah ekspektasi akibat melemahnya permintaan pada bisnis perangkat lunak dan infrastruktur.
Semikonduktor Berbalik Menguat
Sektor semikonduktor memimpin penguatan setelah tekanan pada sesi sebelumnya. VanEck Semiconductor ETF (SMH) naik 2,5%. Applied Materials dan Teradyne masing-masing melonjak lebih dari 3%.
Lam Research dan Micron Technology melesat sekitar 5%, sedangkan STMicroelectronics menguat lebih dari 2%.
Data Inflasi Meredam Kekhawatiran The Fed
Sentimen positif dipicu oleh data inflasi. Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Juni turun 0,4% secara bulanan, sehingga inflasi tahunan melambat menjadi 3,5%. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni penurunan 0,2% secara bulanan dengan inflasi tahunan sebesar 3,8%.
Hasil itu memunculkan optimisme bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi 17% dari sebelumnya 42%.
Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mendekati 60%.
“Data inflasi yang lebih lemah menunjukkan lonjakan inflasi akibat perang Iran mulai mereda. Namun, ini bisa saja hanya bersifat sementara karena ketegangan geopolitik kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir,” kata Chief Investment Officer Regan Capital Skyler Weinand.
Sikap Ketua The Fed
Weinand menambahkan, Ketua The Fed Kevin Warsh masih menunjukkan sikap hawkish dan berfokus menurunkan inflasi ke target bank sentral.
Dalam kesaksiannya di hadapan Kongres AS, Warsh menyatakan lonjakan inflasi yang terjadi selama lima tahun terakhir akan segera menjadi bagian dari masa lalu.
Pergerakan Komoditas dan Saham Bank
Di pasar komoditas, harga minyak memangkas sebagian penguatan setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana mengenakan biaya 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Namun, harga minyak tetap ditutup lebih tinggi setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Minyak mentah AS (WTI) ditutup naik 1,5% ke atas US$79 per barel, sementara minyak Brent menguat 1,7% menjadi di atas US$84 per barel.
Dari sektor perbankan, saham Goldman Sachs melonjak 9% setelah membukukan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi analis. Saham JPMorgan Chase dan Bank of America juga menguat lebih dari 2% seiring rilis laporan keuangan yang mendapat respons positif dari investor.
Ikuti Detak.media
