— Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 2,36% ke Rp 3.900 pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Kenaikan terjadi setelah saham emiten bank BUMN tersebut diserok investor asing, menutup tekanan yang sempat membuat mayoritas sesi sebelumnya berakhir di zona merah.

Perdagangan hari itu mencatat 181,96 juta saham BMRI diperdagangkan dengan frekuensi 35.950 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 713,17 miliar. Investor asing membukukan net buy atas saham Bank Mandiri sebesar Rp 75,42 miliar.

Net buy asing itu menjadi capaian perdana setelah periode 19 Juni sampai 1 Juli yang mencatat aliran net sell dari investor asing.

Secara jangka pendek, saham Bank Mandiri masih menunjukkan pelemahan. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham tercatat turun 7,37%.

Valuasi Terendah Dalam Sepuluh Tahun

Dari sisi valuasi, kondisi saat ini menempatkan saham BMRI sebagai salah satu yang termurah dalam 10 tahun terakhir. Data menunjukkan rasio price to book value (PBV) BMRI berada di 1,19 kali, di bawah -2 PBV standard deviation BMRI dalam 10 tahun terakhir yang tercatat 1,2 kali.

Sementara itu, price earning ratio (PER) BMRI tercatat 6,22 kali (TTM), lebih rendah dari -1 PE standard deviation dalam 10 tahun terakhir sebesar 9,41 kali.

Rekomendasi Analis dan Buyback

MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BMRI dengan target harga sebesar Rp 6.050 per saham.

Target tersebut mencerminkan estimasi valuasi price to book value (PBV) 2026 sebesar 1,8 kali dan PBV 2027 sebesar 1,7 kali, menurut proyeksi yang disampaikan analis.

Selain itu, para pemegang saham telah menyetujui program pembelian kembali (buyback) saham BMRI maksimal senilai Rp 1,17 triliun. Pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung dalam periode 12 bulan setelah rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).