— PT Timah Tbk (TINS) semakin menarik perhatian investor seiring ketatnya ruang pertumbuhan kinerja perusahaan dalam jangka pendek dan panjang. Faktor utama pendorong adalah krisis pasokan timah di pasar global yang terjadi bersamaan dengan permintaan yang tinggi.

Kelangkaan pasokan timah global dipicu oleh terbatasnya produksi di tiga negara penyuplai utama: Myanmar, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia. Gangguan produksi di masing-masing negara membuat suplai tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan.

Pemicu Kelangkaan Pasokan

Di Myanmar, gangguan produksi terjadi karena kesulitan melakukan restart tambang yang berada di negara bagian Wa—wilayah otonom yang dikuasai penuh Tentara Negara Wa. Tambang di sana menyumbang sekitar 10% dari pasokan timah global.

Republik Demokratik Kongo menghadapi konflik dengan kelompok militer pemberontak M23 yang beroperasi di area pertambangan dan membatasi produksi dengan memetakan ulang jalur distribusi. Situasi semakin buruk akibat merebaknya wabah penyakit virus ebola yang menghambat upaya peningkatan produksi.

Di dalam negeri, kasus penambangan timah ilegal masih marak, khususnya di Kepulauan Bangka Belitung. Pemerintah membentuk satuan tugas untuk memberantas tambang ilegal, termasuk Satgas Halilintar yang beranggotakan unsur penegak hukum dan TNI untuk menghentikan penyelundupan timah ilegal di wilayah tersebut.

Dampak Harga dan Pergerakan Pasar

Sesuai mekanisme penawaran dan permintaan, tekanan pasokan membuat harga timah melonjak. Dalam sepekan terakhir, harga timah naik ke level US$53.647 per ton atau meningkat US$1.019 (1,94%) per ton. Di London Metal Exchange (LME), kontrak tiga bulan berakhir di posisi US$53.125 per ton.

Pendorong Permintaan Jangka Pendek

Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia Joanne Ong menilai TINS sebagai salah satu pemain besar yang diuntungkan oleh defisit timah. Permintaan timah solder untuk perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop terus tinggi.

“Kami melihat, pendorong utama dalam jangka pendek itu tiga yaitu artificial intelligence (AI) pusat data (data center), kendaraan listrik (electric vehicle/EV), dan solar PV (Photovoltaic) karena ketiganya harus memakai timah untuk kebutuhan solder. Mau tidak mau, permintaan timah dalam jangka pendek pasti ada karena tidak ada produk substitusinya sehingga hal ini mendukung kenaikan harga timah ke depan,” ucap Joanne saat menjadi pembicara di siniar CGSI yang tayang pada Sabtu (11/7/2026).

Joanne menambahkan bahwa krisis pasokan timah saat ini sulit diatasi dalam waktu dekat maupun jangka panjang karena tidak ada penambahan produksi baru. Dia memperkirakan posisi netral baru terealisasi pada 2029, dengan estimasi pasokan: best case 407 kiloton dan bullish case 420 kiloton pada 2028, sementara permintaan pasar diperkirakan mencapai 414 kiloton.

“Jadi, di 2028 best case kami masih defisit sekitar 6 atau 7 kiloton sehingga kelihatannya tidak semudah itu untuk mengatasi kelangkaan pasokan,” imbuh dia.

Target Produksi dan Cadangan

Tahun ini PT Timah menargetkan produksi bijih timah sebesar 30.000 ton Sn, naik dari target sebelumnya 21.500 ton Sn. Untuk produksi logam timah, perseroan membidik 28.085 metrik ton pada 2026, meningkat dari 21.545 metrik ton pada tahun lalu. Target penjualan logam timah pada 2026 ditetapkan sebesar 25.270 metrik ton, naik dari 19.065 metrik ton pada 2025.

Kenaikan target itu sejalan dengan cadangan mineral TINS. Menurut laporan tahunan 2025, PT Timah mencatatkan penambahan sumber daya mineral timah sebesar 12.144 ton Sn dan peningkatan cadangan mineral timah sebesar 21.706 ton Sn. Untuk mengejar target, perseroan menyiapkan langkah-langkah seperti meningkatkan pengelolaan cadangan dan sumber daya; mempertahankan kepemimpinan pasar; serta meningkatkan agresivitas produksi dan kinerja operasi.

Manajemen PT Timah optimistis karena tren harga positif serta konsolidasi internal dan komunikasi dengan stakeholders, khususnya terkait regulasi, diyakini akan mendukung kinerja operasional. Awal 2026, TINS melaporkan pertumbuhan laba bersih lebih dari 100% menjadi Rp1,5 triliun, lebih tinggi dari laba bersih 2025 sebesar Rp1,3 triliun.

Proyeksi Laba dan Risiko

Joanne memproyeksikan PT Timah akan menutup 2026 dengan laba bersih sekitar Rp5,1 triliun, hampir empat kali lipat dari laba bersih 2025. Lonjakan laba diperkirakan terdorong oleh kenaikan harga timah dan peningkatan produksi (ramp up).

CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan add untuk saham TINS dengan target harga Rp5.500, yang mengimplikasikan rasio P/E 7x atau mencerminkan diskon sekitar 50% dibandingkan pemain sejenis global. Namun, Joanne mengingatkan adanya risiko bagi TINS, antara lain normalisasi harga timah yang lebih cepat dan kebijakan regulasi pemerintah seperti kenaikan royalti, mengingat sekitar 90% penjualan timah perseroan berbasis ekspor.

“Jadi, yang membuat kami menaikkan target harga TINS menjadi Rp5.500 karena harga LME timah yang terus merangkak naik. Sekarang harganya US$50 per ton dan Juni lalu all time high di sekitar US$58 ribu per ton. Jadi, kalau harga timah naik terus akan meningkatkan target harga kami terhadap saham TINS. Kami ekspektasikan, harga rata-rata (average selling price/ASP) timah akan berada di kisaran US$48-49 per ton dan rasio pembayaran dividen (payout dividend ratio) berada di 70% pada tahun depan,” tutup Joanne.