Detak Media — Presiden Joko Widodo Prabowo Subianto menyatakan dukungan atas penguatan hubungan bilateral Indonesia–Belarus setelah pertemuan dengan Presiden Belarus Alexander Lukashenko di Istana Merdeka, Kamis (2/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut kedua negara sepakat memperluas kerja sama pada sektor strategis, meliputi ekonomi, industri, sumber daya manusia, hingga pertahanan.
Perdagangan dan Ratifikasi I-EAEU FTA
Prabowo mengapresiasi komitmen Belarus yang telah meratifikasi perjanjian Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Menurutnya, Indonesia sedang berada dalam proses ratifikasi perjanjian yang sama.
Fokus Investasi Industri dan Joint Venture
Dalam pertemuan itu sektor industri manufaktur menjadi salah satu fokus utama. Prabowo menyebut peluang untuk meningkatkan investasi dan joint venture antara pelaku usaha kedua negara sangat besar, khususnya pada industri manufaktur, otomotif, kendaraan berat, dan agroindustri.
Peningkatan investasi juga diharapkan tercapai melalui kerja sama teknis dan proyek bersama yang melibatkan pelaku industri dari kedua negara.
Peningkatan Kualitas SDM
Selain kerja sama ekonomi, pembahasan juga menyoroti penguatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah Indonesia mendorong pertukaran budaya serta penguatan kemitraan antara institusi pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai bagian dari upaya itu.
Penandatanganan Dokumen Kerja Sama
Kedua delegasi menandatangani sejumlah dokumen kerja sama yang mencakup bidang kesehatan, budaya, akreditasi nasional, pelaporan transaksi keuangan, industri, sains dan teknologi, serta jasa keuangan.
Isu Regional, Perdamaian, dan Stabilitas
Prabowo dan Lukashenko juga saling bertukar pandangan terkait isu-isu regional dan global. Keduanya menegaskan komitmen untuk mendukung upaya mewujudkan perdamaian dan stabilitas dunia.
Latar Hubungan Diplomatik
Hubungan diplomatik Indonesia dan Belarus resmi terjalin sejak 1993. Selama lebih dari tiga dekade, kerja sama berkembang terutama di sektor ekonomi dan industri berat. Belarus dikenal sebagai produsen kendaraan besar, mesin pertanian, serta komoditas kalium yang menjadi bahan baku bagi industri pupuk Indonesia.
Pertemuan bilateral 2026 dianggap sebagai babak baru dengan diadopsinya perjanjian I-EAEU FTA. Akselerasi ratifikasi perjanjian ini diharapkan dapat memangkas hambatan tarif dagang dan membuka akses pasar lebih luas bagi produk unggulan Indonesia ke kawasan Eurasia, serta memperkuat ketahanan industri dan pertahanan melalui transfer teknologi.
Ikuti Detak Media
