Detak.media — PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) direkomendasikan beli oleh Tim Riset Pluang dengan target harga Rp 1.145 per saham, setara potensi kenaikan sekitar 40,5% dari penutupan 30 Juni 2026 di level Rp 815. Rekomendasi ini didasari penilaian atas transformasi perusahaan dari emiten batu bara menjadi penyedia infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dengan ekosistem terintegrasi.
Pluang menilai transformasi DSSA dibangun di atas tiga pilar utama: dompet digital DANA, pusat data hyperscale SMX01, serta portofolio panas bumi berkapasitas sekitar 480 MW. “Batu bara yang membangun rumahnya, AI yang akan mengubah total mesin pertumbuhan DSSA,” tulis Tim Riset Pluang.
Alasan Peralihan Dari Batu Bara
Sepanjang FY25, Golden Energy Mines (GEMS) menyumbang sekitar 86,4% pendapatan DSSA. Meski demikian, manajemen mengalihkan arus kas dari bisnis batu bara ke investasi jangka panjang di energi terbarukan dan infrastruktur digital.
Langkah strategis yang disebutkan meliputi pengembangan kapasitas panas bumi ~480 MW hingga 2029 di beberapa lokasi, dan rencana pembangunan pabrik sel serta modul surya 1–2 GW di Kawasan Industri Kendal melalui patungan dengan mitra industri. Pendapatan panas bumi diproyeksikan meningkat dari US$ 316,9 ribu pada FY25 menjadi US$ 83,7 juta pada FY30F menurut estimasi Pluang.
Empat Lapis Ekosistem AI
Pluang menyusun tesis investasi berdasarkan empat lapis yang saling melengkapi:
- Energi: Panas bumi dianggap sebagai sumber energi baseload nol karbon yang menurunkan biaya operasi pusat data; hyperscaler siap membayar premi 15–20% untuk ko-lokasi energi bebas karbon, yang diperkirakan menambah pendapatan US$ 3,7–12,4 juta per tahun.
- Konektivitas: MoraRepublic (hasil merger Moratelindo dan MyRepublic) tercatat memiliki jaringan fiber sendiri yang menghadirkan latensi rendah ke fasilitas SMX01; latensi rendah menjadi syarat penting untuk beban kerja inferensi AI.
- Komputasi: SMX01, fasilitas 60 MW hasil joint venture 50:50 dengan LG CNS, direncanakan mendukung hingga 2.400 rak GPU dan mulai beroperasi komersial dengan beban awal 18 MW pada kuartal IV-2026. Pada kapasitas penuh dan okupansi 70%, SMX01 diperkirakan menghasilkan EBITDA sekitar US$ 130 juta per tahun. Portofolio edge SM+ (25 fasilitas di 24 kota) melengkapi penawaran hyperscale.
- Aplikasi: DANA dianggap sebagai sumber data komprehensif untuk pelatihan AI, mencakup data pembayaran, lokasi, kredit, dan perilaku belanja. Pluang menilai dataset ini sulit direplikasi dan menjadi mesin permintaan komputasi bersama kemitraan dengan iFLYTEK, Vidio, dan JV robotika ASIX–China Mobile.
Proyeksi Keuangan
Pluang memproyeksikan margin bersih DSSA meningkat dari 8,3% pada FY25 menjadi 13,6% pada FY30F, seiring bertumbuhnya pendapatan non-batu bara. Pendapatan non-batu bara diperkirakan naik dari US$ 303,1 juta (FY25) menjadi US$ 1,7 miliar (FY30F), sementara total pendapatan konsolidasi diproyeksi meningkat dari US$ 2,79 miliar pada 2025 menjadi US$ 5,53 miliar pada 2030F. Laba bersih diperkirakan melompat dari US$ 230 juta menjadi US$ 752 juta dalam periode yang sama.
Kontribusi XLSmart juga diantisipasi menjadi katalis; operator seluler hasil merger XL Axiata–Smartfren tersebut diproyeksikan berbalik dari rugi menjadi memberi kontribusi pada 2027F setelah realisasi sinergi biaya.
Valuasi dan Target Harga
Target harga Rp 1.145 dihitung dengan metode sum-of-the-parts (SOTP) yang menggabungkan valuasi GEMS, panas bumi, XLSmart, MoraRepublic, SM+, DANA, dan entitas lain hingga total enterprise value sekitar US$ 13,99 miliar. Pluang menilai pasar saat ini masih memandang DSSA sebagai konglomerat batu bara sehingga sahamnya diperdagangkan pada PER 2026F sekitar 42 kali dengan rasio PEG 1,4 kali — lebih murah dibanding sejumlah peer infrastruktur AI global menurut analisis mereka.
Pluang mengidentifikasi tiga katalis re-rating dalam 36 bulan ke depan: penandatanganan penyewa jangkar hyperscaler di SMX01, kristalisasi ekosistem XLSmart dan DANA, serta commercial operation date (COD) pertama proyek panas bumi.
Risiko Utama
Meski prospeknya positif, Pluang mengingatkan beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Ketergantungan GEMS sebagai mesin kas membuat pendapatan dan laba rentan terhadap fluktuasi harga batu bara jangka pendek. Pluang memasang asumsi harga batu bara Newcastle di rentang US$ 130–155 per ton untuk skenario dasar FY26F.
Risiko lain mencakup implementasi sistem ekspor satu pintu Danantara, persetujuan regulasi untuk operasional SMX01, realisasi linimasa pengembangan wilayah kerja panas bumi, regulasi di Tiongkok untuk perusahaan patungan, serta ketergantungan lapisan aplikasi pada mitra seperti iFLYTEK dan China Mobile.
Kesimpulan Pluang
Pluang menilai bahwa reinvestasi arus kas dari batu bara ke panas bumi dan pusat data dapat meningkatkan nilai perusahaan secara substansial. Dengan kombinasi energi, konektivitas, komputasi, dan aplikasi dalam satu ekosistem, DSSA dinilai berpeluang mendapat re-rating valuasi dalam beberapa tahun mendatang. Tim Riset Pluang merekomendasikan BUY dengan target Rp 1.145 per saham.
Catatan: Rekomendasi dan proyeksi dalam laporan ini berasal dari Tim Riset Pluang dan mitra yang disebutkan dalam analisis.
Ikuti Detak.media
