— PT Pertamina Patra Niaga menyatakan distribusi bahan bakar biodiesel B50 dimulai secara bertahap sejak 1 Juli 2026. Perusahaan telah menyiapkan jaringan penyaluran dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) hingga lembaga penyalur termasuk SPBU dan APMS.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan sebanyak 29 dari 126 terminal BBM telah siap mendistribusikan B50 pada tahap awal. Menurutnya, jumlah terminal yang melayani B50 akan terus bertambah selama masa transisi.

“Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan infrastruktur penyaluran B50 dari mulai Terminal BBM hingga ke lembaga penyalur (SPBU dan APMS). Sebanyak 29 terminal telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026 dan jumlahnya akan terus bertambah secara bertahap,” ujar Kitty dalam keterangan tertulis.

Monitoring distribusi juga dilakukan untuk memastikan alur penyaluran sampai ke lembaga penyalur berjalan lancar sehingga bahan bakar tersebut dapat segera dikonsumsi masyarakat.

Hingga saat ini, jaringan distribusi dari 29 terminal awal sudah mencakup sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa termasuk Jabodetabek, serta daerah Balikpapan dan Makassar.

Masa Transisi Selama 3 Bulan

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Laode Sulaeman, menyampaikan penerapan B50 dilakukan secara nasional per 1 Juli 2026. Pemerintah memberikan masa transisi sekitar tiga bulan untuk penyesuaian distribusi dan konsumsi dari B40 ke B50.

“Secara nasional tentu ada masa jeda untuk penyesuaiannya. Artinya, masih ada sisa B40 yang dihabiskan terlebih dahulu. Diberikan waktu sampai tiga bulan,” kata Laode di Kementerian ESDM, Jakarta.

Laode menambahkan kebijakan ini berlaku untuk semua pengguna, baik konsumen umum maupun sektor industri. Terkait harga, pemerintah memastikan tidak ada perlakuan khusus; harga bahan bakar akan mengikuti mekanisme yang selama ini berlaku.

“Kalau harga mengikuti harga BBM yang sudah biasanya saja, tidak ada hal khusus,” pungkas Dirjen Laode.