— Pemerintah mempercepat konsolidasi langkah antisipatif menyusul prediksi periode Juli–Desember 2026 yang berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga menengah. Langkah ini diarahkan untuk menjamin pasokan air, menjaga ketahanan pangan, serta mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menginstruksikan koordinasi intensif antara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk mengamankan ketersediaan air dan menjaga kelancaran aktivitas sosial ekonomi selama musim kemarau yang diperkirakan lebih kering dan panjang.

Data Infrastruktur Air Siap Dioptimalkan

Kementerian Pekerjaan Umum telah menyiagakan infrastruktur air di sejumlah wilayah strategis. Inventaris yang siap dioptimalkan meliputi 240 bendungan, 593 situ dan danau, 1.639 tampungan air baku, serta 10.757 sumur bor.

Selain memantau volume tampungan, kementerian terkait juga menyiagakan armada pompa dan sarana distribusi air bersih portable untuk disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.

Imbauan Pemetaan Sumber Air dan Pengelolaan

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, mengapresiasi langkah Kementerian Dalam Negeri yang mengumpulkan kepala daerah untuk menyamakan persepsi mitigasi El Nino.

“Hal pertama yang harus kita lakukan adalah tetap memastikan masyarakat aman, terpenuhi kebutuhan air dan pangannya, serta aktivitas sosial ekonomi tetap berjalan,” ujar Lilik pada Rabu (1/7/2026).

Ia mendorong pemerintah daerah segera memetakan sumber air baku yang masih produktif dan menggalakkan upaya panen air hujan ketika musim hujan masih berlangsung.

“Jika saat ini masih ada hujan, kita perlu mengampanyekan panen air hujan dan mengurangi konsumsi air yang berlebihan. Pemerintah daerah juga harus segera menyosialisasikan dan membuat rencana kontingensi kedaruratan kekeringan, sehingga kita bisa menyiapkan mobil-mobil tangki air, menentukan sumber air yang bisa diambil, lalu mendistribusikannya ke daerah-daerah terdampak,” lanjut Lilik.

Upaya Cegah Karhutla dan Operasi Modifikasi Cuaca

Badan Nasional Penanggulangan Bencana fokus pada mitigasi risiko karhutla dengan strategi yang mencakup peningkatan kapasitas personel, dukungan logistik, pengerahan helikopter patroli dan water bombing, serta operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan.

Lilik menegaskan operasi modifikasi cuaca perlu dilakukan sejak awal musim guna mengisi cadangan air dan membasahi lahan gambut sebelum puncak kemarau.

“Operasi modifikasi cuaca perlu direncanakan sejak awal musim untuk mengisi cadangan agua dan membasahi lahan gambut sebelum puncak kemarau tiba,” kata Lilik.

Pemerintah pusat juga menginstruksikan pemerintah daerah memperkuat sinergi patroli terpadu di tingkat tapak. Patroli intensif wajib melibatkan unsur TNI-Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api, serta kementerian/lembaga terkait untuk mengawasi langsung desa-desa yang masuk zona merah rawan kebakaran.