Sylvain Guintoli: Pecco Bagnaia Tertekan, Ducati Tertinggal dari Loncatan Besar Aprilia

Mantan pembalap dan komentator MotoGP, Sylvain Guintoli, mengkritisi performa mengecewakan Francesco Bagnaia pada sesi kualifikasi pertama (Q1) MotoGP Thailand 2026. Ia menilai Bagnaia kesulitan tampil optimal di bawah tekanan, sebuah pola yang disebutnya mirip dengan musim lalu.

Bagnaia, yang mengendarai Ducati Desmosedici GP26, gagal melaju ke kualifikasi kedua (Q2). Ia tertinggal dari Raul Fernandez (Trackhouse) yang memimpin Q1 dengan waktu 1:28,784, serta Franco Morbidelli (VR46) yang juga lolos ke Q2. Bagnaia sendiri finis di posisi ketiga Q1, terpaut 0,564 detik dari Fernandez.

Hasil ini memaksa Bagnaia memulai balapan utama dari baris belakang. Situasi ini kontras dengan rekan setimnya, Marc Marquez, yang nyaris meraih pole position, hanya kalah 0,035 detik dari Marco Bezzecchi yang mencatat waktu tercepat. Fabio Di Giannantonio melengkapi dominasi Ducati di posisi keempat.

Bezzecchi Pimpin Aprilia ke Q2 MotoGP Thailand, Bagnaia dan Yamaha Berjuang di Q1

Tekanan Kritis dan Performa Ban Jadi Sorotan

Guintoli berpendapat bahwa masalah Bagnaia bukan semata-mata kecepatan, melainkan juga tekanan psikologis. Saat mencoba mendorong motor melebihi batas, Bagnaia justru tidak bisa memberikan performa maksimal.

“Pecco terlihat kembali di belakang, seperti tahun lalu. Saat tekanan datang, dia tidak mampu memberikan yang terbaik. Saat mencoba mendorong motor melebihi batas, hasilnya malah lebih buruk dan membuatnya lebih lambat,” ujar Guintoli dalam komentarnya di TNT Sports 2 pada 28 Februari.

Selain faktor mental, Guintoli juga menyoroti keunggulan Aprilia RS-GP. Ia menilai pabrikan asal Italia itu telah melakukan “loncatan besar” dalam hal stabilitas dan performa ban, terutama saat menikung dan pengereman.

“Aprilia datang dengan stabilitas yang lebih baik pada rem dan traksi, dan semua pembalap mereka diuntungkan dari hal ini,” tambah Guintoli, mengindikasikan bahwa paket motor Aprilia saat ini lebih unggul.

Tes Sepang Tak Sepenuhnya Tercermin di Balapan

Sebelumnya, Bagnaia sempat menunjukkan performa impresif dalam tes pra-musim di Sepang, bahkan sempat membuat rival-rival Ducati khawatir. CEO Aprilia, Massimo Rivola, bahkan pernah berkelakar bahwa tim lain “bisa pulang” melihat kecepatan Bagnaia.

Namun, hasil di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, menunjukkan bahwa Bagnaia masih perlu beradaptasi dengan kondisi musim baru. Perubahan pada ban belakang Michelin untuk menghadapi panas ekstrem disebut menjadi salah satu tantangan.

Guintoli membandingkan catatan waktu Bagnaia di Buriram dengan tahun sebelumnya. “Dua tahun lalu di sini, Pecco membuat rekor lap baru 28,7 detik. Sekarang dia hanya mencatat 29,3 detik, lebih lambat setengah detik,” ungkapnya.

“Masalahnya terlihat jelas pada grip belakang—dia tidak bisa memanfaatkan traksi di tikungan dan meleset di banyak titik.” Guintoli menegaskan bahwa meskipun Ducati tetap kompetitif, Aprilia kini tampak menjadi paket motor terbaik di MotoGP 2026, khususnya di sirkuit yang menguji ketahanan ban seperti Buriram.

Gagal Tembus Q2, Bagnaia Ungkap Kendala Setup dan Kondisi Trek MotoGP Thailand

Kegagalan Bagnaia di Q1 Thailand GP menggarisbawahi tantangan yang dihadapi Ducati dalam menyesuaikan motor dengan ban baru. Sementara itu, tekanan dari Aprilia semakin nyata. Musim 2026 baru saja dimulai, dan pertanyaan besar adalah apakah Bagnaia dapat bangkit atau Ducati akan terus tertinggal di awal musim.