Francesco Bagnaia Khawatir Keunggulan Aprilia Tak Terkejar Pasca Mimpi Buruk di MotoGP Amerika 2026
Francesco Bagnaia menggambarkan lap-lap akhir Grand Prix Amerika Serikat (AS) di Circuit of The Americas (COTA) sebagai sebuah “mimpi buruk” setelah mengalami penurunan performa dramatis. Pembalap Ducati itu kehilangan lima posisi di tiga lap terakhir karena performa bannya yang menurun drastis, yang membuatnya khawatir akan keunggulan Aprilia yang disebutnya “jauh di depan”.
Balapan di COTA pada hari Minggu (30/3/2026) menjadi penutup akhir pekan yang sulit bagi Bagnaia. Setelah kalah tipis di Sprint Race sehari sebelumnya akibat perbedaan kompon ban belakang, semua pembalap menggunakan ban medium pada balapan utama. Namun, Bagnaia merasakan masalah sejak sesi pemanasan pagi hari.
“Sejujurnya, saya mulai kesulitan banyak, sejak pagi,” ujar Bagnaia.
“Sudah di warm-up, saya tidak merasa seperti kemarin; motor terasa jauh lebih berat, dan sulit untuk mempertahankan kecepatan masuk tikungan yang sama seperti sisa akhir pekan.”
Kondisi tersebut berlanjut hingga balapan.
“Saat balapan dimulai, saya merasa tidak dalam kondisi baik. Cengkeraman ban belakang sedikit berkurang, mungkin karena kondisi cuaca, dan saya mulai kesulitan cukup banyak,” jelasnya.
Meskipun sempat berada di posisi kelima dan mengungguli rekan setimnya, Marc Marquez, performa ban Bagnaia kolaps di lap-lap akhir. Marquez, yang baru saja menjalani hukuman long lap penalty, berhasil menyalipnya tiga lap sebelum finis, membuka jalan bagi pembalap lain.
Enea Bastianini, Alex Marquez, Raul Fernandez, dan Luca Marini semuanya berhasil melewati Bagnaia sebelum garis finis.
“Saya hanya menunggu ban pembalap di depan saya menurun, tetapi saya mulai menurun drastis. Jadi tanpa mendorong terlalu keras, saya benar-benar menghancurkan ban belakang,” ungkapnya.
Perjuangan di Lap Akhir
Bagnaia mengaku bahwa ia mencoba sedikit mendorong di empat lap terakhir untuk menahan Marquez dan Bastianini di belakangnya. Namun, upaya tersebut justru memperburuk kondisi bannya.
“Dua lap terakhir adalah mimpi buruk karena saya berisiko jatuh. Begitu saya sedikit miring ke sisi kanan, saya kehilangan cengkeraman, dan saya mulai melaju di 2’05, sangat lambat,” katanya.
Hasil ini sangat kontras dengan performa Aprilia yang kembali merayakan hasil dominan. Tim pabrikan asal Italia itu berhasil mencetak finis 1-2 melalui Marco Bezzecchi dan Jorge Martin, yang memimpin klasemen sementara. Bezzecchi kini memimpin dengan 81 poin, diikuti oleh Martin dengan 77 poin, dan Pedro Acosta di posisi ketiga dengan 60 poin. Keduanya berhasil finis di depan Bagnaia, yang terpaut 14,544 detik dari Bezzecchi di posisi kesepuluh.
Kekhawatiran Bagnaia Terhadap Aprilia
Performa Aprilia yang konsisten di awal musim 2026 menjadi perhatian serius bagi Bagnaia. Sejak awal musim, Aprilia menunjukkan peningkatan signifikan, memimpin klasemen konstruktor dan pembalap. Bagnaia secara terbuka mengakui keunggulan pabrikan rivalnya tersebut.
“Aprilia telah mengambil langkah besar tahun ini; mereka telah banyak berkembang,” ujar Bagnaia, seperti dikutip oleh GPOne.com.
“Yang membuat perbedaan adalah mereka tidak menguras ban mereka meskipun melaju begitu cepat. Aprilia berada di depan, dan cukup jauh di depan.” jelasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi kuat bahwa Bagnaia akan bergabung dengan Aprilia pada musim 2027. Jika benar, keunggulan Aprilia saat ini bisa menjadi gambaran masa depan performanya. Musim 2026 sendiri telah menjadi musim yang kuat bagi Aprilia, dengan mereka memimpin klasemen konstruktor di depan Ducati dan KTM setelah seri pembuka.
Musim 2026 menandai kembalinya Aprilia ke puncak persaingan MotoGP. Setelah finis di posisi kedua klasemen konstruktor pada 2025 dengan 418 poin, mereka bertekad untuk melangkah lebih jauh. Peningkatan performa ini didukung oleh pengembangan berkelanjutan pada motor RS-GP26, yang diklaim sebagai prototipe tercepat yang pernah dibangun oleh Aprilia Racing.
Sementara itu, Ducati menghadapi tantangan untuk menutup kesenjangan. Setelah mendominasi beberapa musim sebelumnya, pabrikan Borgo Panigale ini kini tertinggal dari Aprilia dalam perburuan gelar. Bagnaia, yang merupakan juara dunia MotoGP 2024, kini harus berjuang keras untuk mempertahankan posisinya di papan atas klasemen sementara, sembari mencari solusi atas masalah performa motornya.
Hasil di COTA ini menjadi alarm bagi Bagnaia dan tim Ducati. Kekhawatiran mengenai performa ban dan keunggulan Aprilia akan menjadi fokus utama menjelang seri-seri berikutnya, di mana persaingan diprediksi akan semakin ketat.