Ducati GP26 Sulit Dijinakkan, Alex Marquez Akui Kehilangan 20% Potensi di MotoGP 2026
Musim awal MotoGP 2026 menghadirkan tantangan tak terduga bagi kubu Ducati. Motor terbaru mereka, Desmosedici GP26, yang di atas kertas digadang-gadang menjadi evolusi paling agresif dari generasi sebelumnya, justru memunculkan persoalan adaptasi bagi para pebalap.
Salah satu pengakuan paling jujur datang dari Alex Marquez. Pebalap asal Spanyol itu menyebut dirinya belum mampu mengeluarkan potensi penuh motor, bahkan merasa kehilangan sekitar 20 persen performa yang seharusnya bisa diraih.
Adaptasi Lebih Sulit dari Perkiraan
Menurut Alex, karakter GP26 sangat berbeda dibanding GP25 maupun GP24 yang sebelumnya dikenal lebih “ramah” bagi gaya balap pebalap satelit maupun tim utama. Perubahan besar pada area aerodinamika, distribusi bobot, serta karakter pengereman membuat motor ini menuntut pendekatan yang jauh lebih presisi.
Ia menjelaskan bahwa masalah utama bukan pada kecepatan murni, melainkan bagaimana motor bereaksi saat memasuki tikungan dan saat transisi dari pengereman ke akselerasi. Pada fase inilah ia merasa tidak bisa memaksimalkan gaya balap alaminya.
“Secara data, motornya sangat cepat. Tapi saat di lintasan, saya belum bisa memanfaatkan semua itu,” ungkapnya.
Data Kuat, Rasa di Lintasan Berbeda
Fenomena yang dialami Alex bukan sekadar soal feeling subjektif. Dari sisi telemetri, GP26 menunjukkan angka yang sangat kompetitif di sektor lurus dan saat akselerasi keluar tikungan. Namun, konsistensi waktu putaran sulit dicapai karena motor terasa kurang stabil di fase kritis tikungan.
Hal ini membuat Alex harus lebih berhati-hati saat mengerem dan membuka gas, yang berujung pada hilangnya waktu di setiap lap. Akumulasi kecil ini menjadi signifikan dalam satu balapan penuh.
Ia menyebut, dalam kondisi ideal, dirinya yakin masih ada sekitar 20 persen potensi yang belum bisa disentuh karena keterbatasan adaptasi tersebut.
Kondisi ini membuat para teknisi Ducati bekerja ekstra keras mencari kombinasi setup yang bisa membantu pebalap lebih nyaman tanpa mengorbankan keunggulan teknis GP26.
Fokus utama saat ini adalah mencari keseimbangan antara stabilitas saat pengereman dan traksi saat keluar tikungan. Ducati memahami bahwa jika para pebalap belum merasa “terhubung” dengan motor, maka keunggulan teknis di atas kertas tidak akan maksimal di lintasan.
Alex pun menyebut komunikasi dengan kru berjalan sangat intens setiap akhir sesi, bahkan perubahan kecil pada setting suspensi dan engine braking terus dicoba dari satu sesi ke sesi berikutnya.
Potensi Besar Jika Bisa Memaksimalkan Motor
Meski mengakui kesulitan, Alex tetap optimistis. Ia menilai GP26 memiliki potensi luar biasa yang bisa membuat Ducati kembali dominan ketika para pebalap sudah benar-benar memahami karakter motor.
“Begitu kami menemukan kuncinya, motor ini bisa sangat berbahaya bagi rival,” ujarnya.
Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa masalah Ducati saat ini bukan soal kekurangan performa, melainkan proses adaptasi yang belum tuntas di awal musim.
Jika proses ini berhasil dilewati, bukan tidak mungkin Ducati akan kembali menunjukkan wajah aslinya sebagai motor paling kompetitif di grid.