Carlo Pernat: Jorge Martin Pilih Yamaha karena Uang, Bukan Ambisi Juara
Komentar tajam datang dari pengamat dan manajer MotoGP senior, Carlo Pernat, terkait keputusan Jorge Martin yang diproyeksikan bergabung dengan Yamaha Factory Racing mulai musim 2027.
Dalam wawancara dengan media Italia Fanpage, Pernat menilai kepindahan Martin bukan dilandasi pertimbangan teknis performa motor, melainkan faktor finansial yang sangat menggiurkan. Bahkan, ia menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang mengarah pada fase akhir karier sang pembalap di MotoGP.
Menurut Pernat, Martin telah lama menghadapi tantangan fisik akibat sejumlah cedera dalam beberapa musim terakhir. Situasi itu, dikombinasikan dengan tawaran kontrak besar dari Yamaha, disebut menjadi dasar keputusan sang pembalap.
“Bayangkan berada di posisinya: banyak cedera, karier yang berat, lalu datang tawaran finansial sangat besar. Ini lebih keputusan ekonomi daripada teknis,” ujar Pernat.
Ia bahkan melontarkan pernyataan yang cukup keras dengan menyebut Martin menuju Yamaha sebagai tempat untuk “mengakhiri” kariernya dengan aman secara finansial.
Musim Terakhir di Aprilia Penuh Tekanan
Sebelum bergabung dengan Yamaha pada MotoGP 2027, Martin masih akan memperkuat Aprilia Racing hingga akhir musim 2026. Namun situasi di dalam tim tidak sederhana.
Martin saat ini terlibat persaingan ketat dengan rekan setimnya, Marco Bezzecchi, dalam perebutan posisi teratas klasemen kejuaraan dunia. Selisih poin yang sangat tipis membuat keduanya saling menjadi ancaman terbesar.
Kondisi ini menempatkan Aprilia pada dilema strategis, mengingat Martin adalah pembalap yang sudah dipastikan hengkang.
Ada dimensi lain yang membuat situasi ini sensitif bagi Aprilia. Jika Martin berhasil menjadi juara dunia sebelum hengkang, ia akan membawa nomor motor 1 ke Yamaha pada musim berikutnya.
Bagi Aprilia, skenario tersebut tentu bukan hasil ideal, karena simbol supremasi juara dunia justru akan tampil di motor pabrikan rival.
Terlepas dari spekulasi soal masa depannya, Pernat mengakui Martin tetap memiliki keunggulan besar dalam perebutan gelar karena sudah pernah merasakan tekanan menjadi juara dunia.
“Martin tahu bagaimana cara memenangkan gelar. Itu keunggulan yang tidak dimiliki semua pembalap,” kata Pernat.
Pengalaman tersebut membuat Martin tetap menjadi kandidat kuat juara, sekaligus momok bagi Bezzecchi di lintasan.
Aprilia Belum Terapkan Team Order
Sejauh ini, Aprilia belum menerapkan team order kepada Martin maupun Bezzecchi. Tim menegaskan intervensi hanya akan dilakukan jika salah satu pembalap sudah tidak memiliki peluang matematis untuk merebut gelar.
Dengan gap poin yang sangat tipis, besar kemungkinan duel internal ini akan terus berlangsung hingga fase akhir musim.
Situasi tersebut membuat manajemen Aprilia harus menyeimbangkan antara sportivitas kompetisi dan kepentingan strategis tim ke depan.
Walau dinilai sudah mulai memikirkan fase akhir karier, performa Martin di lintasan tetap berada di level tertinggi. Ia masih menjadi penantang serius dalam perebutan gelar dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan performa.
Komentar Pernat pun memunculkan perspektif baru: bahwa keputusan besar seorang pembalap elite tidak selalu didorong oleh ambisi teknis semata, tetapi juga pertimbangan realistis tentang masa depan.