Detak.media — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan. Namun, perusahaan sekuritas itu menekankan investor harus tetap berhati-hati terhadap sejumlah tantangan makroekonomi yang berpotensi membayangi pertumbuhan pada paruh kedua 2026.
Dalam rekomendasi investasi, Mirae Asset menganjurkan strategi lebih defensif dengan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat. Perusahaan menyoroti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) sebagai pilihan utama.
Alasan di Balik Rekomendasi
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan penegasan status investment grade oleh S&P mencerminkan kondisi fundamental fiskal Indonesia yang relatif solid, salah satunya karena komitmen menjaga batas defisit APBN di level 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Penegasan peringkat investment grade oleh S&P memberikan keyakinan bahwa fundamental Indonesia masih cukup kuat. Namun, investor juga perlu melihat bahwa tantangan ke depan tidak hanya berasal dari kondisi fiskal, tetapi juga tekanan eksternal dan perlambatan permintaan domestik,” ujar Rully dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
Rully menilai risiko terbesar saat ini bukan penurunan peringkat kredit Indonesia, melainkan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global. Ia menyebut proyeksi pertumbuhan di atas 6% menurut S&P masih tergolong optimistis.
Menurut Rully, faktor yang dapat membatasi laju pertumbuhan antara lain kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi yang lebih tinggi, serta melambatnya permintaan domestik. Di sisi lain, ruang pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal diperkirakan terbatas karena komitmen menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% terhadap PDB.
Pilih Saham Defensif
Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset menyarankan investor mengedepankan portofolio defensif dengan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, likuiditas sehat, serta mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar.
“Kami masih melihat BBCA, EXCL, dan JPFA sebagai pilihan utama karena memiliki fundamental yang relatif kuat untuk menghadapi ketidakpastian pasar,” kata Rully.
Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menambahkan pasar keuangan global masih dibayangi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, kenaikan harga minyak Brent hingga sekitar US$ 83 per barel dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta mempertahankan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko inflasi global sehingga memperkuat ekspektasi suku bunga higher for longer. Kondisi tersebut berpotensi menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan,” ujarnya.
Meski begitu, Jessica menilai penegasan kembali status investment grade oleh S&P tetap merupakan faktor positif yang dapat menopang minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN), terutama tenor pendek hingga menengah, selama kondisi geopolitik tidak kembali memburuk secara signifikan.
Ikuti Detak.media
