Detak Media — Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko menegaskan hubungan bilateral antara Belarus dan Indonesia telah berkembang menjadi kemitraan yang erat dan saling menguntungkan di berbagai sektor strategis.
Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan bilateral formal dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (2/7/2026).
Lukashenko mengungkapkan hubungan kedua negara berakar jauh sebelum pembukaan hubungan diplomatik resmi pada 1993. Menurutnya, interaksi positif dengan Indonesia sudah terjalin ketika Belarus masih merupakan bagian dari Uni Soviet.
“Bahkan sebenarnya, hubungan ini sudah berlangsung jauh lebih lama. Pada saat pembentukan hubungan diplomatik pada tahun 1993, kita sudah memiliki pengalaman berinteraksi sejak masa Uni Soviet,” ujar Lukashenko, Kamis.
Ia memaparkan catatan sejarah di mana delegasi Belarus, sebagai bagian dari Uni Soviet dalam sidang-sidang awal Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, konsisten menyuarakan penolakan terhadap kolonialisme di Nusantara dan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Lukashenko menyatakan semangat saling mendukung tersebut berlanjut hingga kini. Ia menilai Minsk dan Jakarta memiliki keselarasan pandangan di berbagai forum internasional dan saling memberikan dukungan atas berbagai isu strategis dunia.
“Anda tahu, jika kami memiliki satu saja sahabat seperti Indonesia, itu sudah lebih dari cukup bagi kami,” kata Lukashenko.
Presiden Belarus juga mengenang kunjungan resminya ke Indonesia pada 2013 di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Ia menilai kunjungan balasan Presiden Prabowo ke Belarus pada 2025 menjadi fondasi penting bagi penguatan hubungan bilateral yang menunjukkan tren positif.
“Hubungan persahabatan yang tulus dan kerja sama yang membuahkan hasil telah mengikat kedua negara kita selama lebih dari 30 tahun,” tambahnya.
Peluncuran Road Map 2026–2030
Sebagai bagian dari momentum tiga dekade hubungan bilateral, kedua negara resmi meluncurkan Road Map for Bilateral Cooperation 2026–2030. Dokumen ini akan menjadi pedoman untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis selama lima tahun ke depan.
Selain peluncuran peta jalan, pihak Belarus mengumumkan telah menyelesaikan proses ratifikasi Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Langkah tersebut diharapkan mempercepat finalisasi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia.
Jejak Diplomatik dan Kerja Sama Ekonomi
Hubungan diplomatik Indonesia dan Belarus dibuka secara resmi pada 18 Juni 1993. Awalnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow merangkap wilayah Belarus sebelum pemerintah Belarus membuka kedutaan resminya di Jakarta pada 2011.
Dari sisi ekonomi, Belarus menjadi mitra penting di Eropa Timur, terutama sebagai pemasok pupuk kalium (potas) bagi sektor pertanian dan perkebunan Indonesia. Sementara itu, Indonesia mengekspor barang seperti minyak kelapa sawit, produk karet, kopi, dan tekstil ke Belarus.
Memasuki era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia aktif memperluas diversifikasi pasar non-tradisional, termasuk memperkuat integrasi ekonomi dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Ratifikasi I-EAEU FTA oleh Belarus dianggap membuka peluang untuk meningkatkan volume perdagangan dan kerja sama ekonomi kedua negara.
Ikuti Detak Media
