— Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali menguat pada Selasa, 14 Juli 2026. Penguatan didorong kombinasi pelemahan nilai tukar ringgit, lonjakan harga minyak dunia, dan perbaikan ekspor CPO Malaysia yang meningkatkan optimisme pelaku pasar.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Selasa (14/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 menguat 43 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Agustus 2026 naik 36 Ringgit Malaysia menjadi 4.529 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak September 2026 terkerek 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.573 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 menanjak 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.608 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak November 2026 meningkat 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.641 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan kontrak Desember 2026 naik 38 Ringgit Malaysia menjadi 4.671 Ringgit Malaysia per ton.

Sentimen positif ikut datang dari lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz seiring memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, menurut catatan TradingView.

Dari sisi perdagangan, ekspor CPO Malaysia menunjukkan perbaikan. Data perusahaan survei kargo mencatat pengiriman pada periode 1-10 Juli meningkat 1,6%–5,1% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.

Di Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia, kebijakan peningkatan mandatori biodiesel menjadi B50 diperkirakan akan mendorong konsumsi minyak sawit di pasar domestik sehingga menopang permintaan.

Sentimen Negatif CPO

Meski demikian, kenaikan harga CPO masih dibatasi sejumlah sentimen negatif. Uni Eropa mengumumkan bahwa impor produk turunan minyak sawit akan mulai dikenakan aturan anti-deforestasi (European Union Deforestation Regulation/EUDR) mulai Desember 2027.

Selain itu, data Juni menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia meningkat 4,8% secara bulanan seiring produksi yang naik 8,1% karena faktor musiman.

Dari sisi permintaan global, impor minyak sawit India pada Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan. Penurunan tersebut dipicu lemahnya permintaan domestik serta semakin tipisnya selisih harga minyak sawit dibandingkan minyak nabati pesaing.

Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data produk domestik bruto (PDB) China kuartal II-2026. Meski data perdagangan China pada Juni menunjukkan hasil yang solid, investor masih menunggu kepastian mengenai prospek pertumbuhan ekonomi negara importir CPO terbesar tersebut.