— Masuknya entitas konglomerat Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie dalam daftar mitra terpilih proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di delapan lokasi pengembangan yang diumumkan Danantara Indonesia menegaskan penetrasi bisnis para taipan ke sektor waste-to-energy (WtE).

Dua anak usaha dari konglomerat tersebut—PT Chandra Waste Energy yang terkait dengan Prajogo Pangestu dan PT Bakrie Power yang terafiliasi dengan Grup Bakrie—terpilih sebagai bagian dari konsorsium pemenang pada seleksi proyek PSEL gelombang kedua.

Prajogo Pangestu memasuki bisnis olah sampah melalui afiliasinya, PT Chandra Waste Energy—anak tidak langsung PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Perusahaan itu bergabung dalam konsorsium Masa Depan Energi Indonesia bersama Beijing GeoEnviron Engineering and Tech Inc. Konsorsium tersebut menjadi salah satu dari delapan mitra yang lolos seleksi proyek PSEL gelombang kedua.

Sementara Grup Bakrie bergerak lewat PT Bakrie Power, entitas usaha milik PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melalui anak usahanya, PT Bakrie Metal Industries (BMI). Bakrie Power masuk dalam konsorsium Mentari Citra Lestari bersama PT Acritas Karya Persada dan SUS Indonesia Holding Ltd, lalu keluar sebagai salah satu pemenang dalam seleksi proyek WtE putaran kedua yang diikuti 85 peserta.

Keberhasilan dua entitas konglomerat tersebut berpotensi memperkuat sinergi dalam ekosistem usaha mereka. Grup Chandra, sebagai pemain yang beroperasi di beragam sektor, kini juga menjalankan bisnis energi baru terbarukan lewat anak usahanya, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) atau CDI Group.

CDI Group diketahui telah menyusun peta jalan untuk mengembangkan pembangkit listrik berbasis sumber energi baru dan terbarukan. Selain pemanfaatan sampah, rencana CDI Group mencakup pemanfaatan tenaga surya dan air untuk mendukung solusi energi berkelanjutan.

Begitu pula Grup Bakrie yang membangun ekosistem kendaraan listrik terintegrasi melalui anak usahanya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan secara bertahap menggeser portofolionya ke bisnis hijau seperti yang dijalankan anak usahanya, PT Helio Synar Energi.

Direktur BNBR Kartini Sally mengatakan pengembangan bisnis hijau akan dilakukan bertahap karena bisnis non-hijau seperti manufaktur dan infrastruktur masih mendominasi grup. “Jadi, ke depan kami ingin porsinya lebih merata menjadi 30,30, dan 30,” ucap Kartini.

Luasnya Skala dan Kebutuhan Proyek WtE

Chief Investment Officer PT Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir menyatakan bahwa WtE merupakan proyek yang dibutuhkan karena sampah sudah menjadi “the biggest issue” yang menyangkut kualitas lingkungan di Indonesia. Melalui proyek WtE diharapkan menjadi salah satu solusi untuk persoalan polusi seperti yang terjadi di Jakarta, selain solusi lain seperti kendaraan listrik.

Pandu menyebut proyek pengolahan sampah ini akan dipercepat dan ditargetkan selesai pada 2028 baik dari sisi “paper works” maupun eksekusinya. “Jadi, proyek WtE sangat dibutuhkan dan melihat tingginya antusiasme dari para mitra yang mengikuti seleksi tentu proyek ini juga menawarkan pengembalian investasi (return) yang sangat bagus,” ujar Pandu saat menjadi pembicara di siniar yang tayang baru-baru ini.

Pandu menambahkan bahwa tingginya antusiasme peserta seleksi juga dipengaruhi valuasi perusahaan-perusahaan yang lolos pada tahap kedua, yang dinilai memiliki valuasi bagus di “public market”, sehingga mereka berkepentingan memperbesar kapasitas untuk meningkatkan pendapatan. Menurut Pandu, WtE di Indonesia merupakan proyek terbesar di dunia.

Model Bisnis dan Jaminan Pendapatan

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai bagi konglomerat seperti Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie, kepemilikan portofolio di bisnis energi hijau penting untuk mempertahankan akses pendanaan murah (green financing) dari bank internasional di tengah ketatnya seleksi emiten berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG).

Nafan mencatat proyek WtE atau PSEL di Indonesia mendapatkan dukungan regulasi pemerintah untuk percepatan pembangunan infrastruktur hijau. Yang paling krusial, aliran pendapatan bisnis ini dinilai sangat terjamin karena listrik yang dihasilkan memiliki kontrak pembelian jangka panjang (Power Purchase Agreement / PPA) dengan PT PLN (Persero) sebagai sole offtaker.

Selain penjualan listrik ke BUMN seperti PT PLN (Persero), perusahaan pengelola atau mitra yang terpilih juga mendapat pendapatan dari tipping fee (biaya pengelolaan sampah) yang dibayarkan pemerintah daerah. “Ini menciptakan model bisnis dual-revenue streams (pendapatan ganda) yang meminimalisir risiko operasional,” ujar Nafan kepada Investor Daily, Selasa (14/7/2026).

Dinamika di Pasar Saham

Ironisnya, di tengah sentimen terpilihnya entitas TPIA dan BNBR sebagai mitra proyek WtE Danantara, kinerja kedua saham konglomerat tersebut justru berada di zona merah. Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), saham TPIA ditutup terkoreksi sebanyak 10 (-0,53%) ke level Rp1.880. Pelemahan ini membuat saham TPIA jatuh lebih dalam hingga 5.120 poin (-73,14%) terhitung sejak awal tahun atau year-to-date (ytd).

Meski demikian, TPIA menjadi saham teratas kedua setelah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang banyak diakumulasi asing dengan net buy mencapai Rp62,5 miliar dan diikuti saham emiten Prajogo lainnya yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan net buy mencapai Rp48,65 miliar.

Sikap serupa tampak pada saham BNBR yang justru berbalik menurun sebanyak 4 poin (-4,30%) pada penutupan perdagangan Selasa (14/7/2026), meski sebelumnya selama sepekan terakhir saham BNBR telah berada dalam tren menguat sebesar 3,49%.