Detak Media — Bandara Husein Sastranegara di Bandung direncanakan kembali melayani penerbangan komersial berjadwal mulai 17 September 2026 setelah ditutup sejak 29 Oktober 2023. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mempercepat persiapan teknis dan operasional bersama seluruh pemangku kepentingan.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan reaktivasi dilakukan secara bertahap dengan menempatkan keselamatan dan keamanan sebagai prioritas. Persiapan sisi udara dan darat intensif dijalankan dalam beberapa minggu terakhir untuk memenuhi target operasional pada tanggal tersebut.
Timeline Dan Skenario Percepatan
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan persiapan operasional ditargetkan selesai pada 17 September 2026. Namun pihaknya juga menyiapkan skenario percepatan sesuai arahan Menteri Pertahanan agar bandara bisa siap pada 17 Agustus 2026 dengan koordinasi lebih lanjut bersama Komandan Lanud Husein Sastranegara.
“Reaktivasi Bandar Udara Husein Sastranegara akan dilaksanakan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip keselamatan, keamanan, dan kepatuhan terhadap seluruh regulasi penerbangan sipil,” ujar Lukman.
Kebutuhan Teknis Dan Keselamatan
Kajian operasional dan safety assessment yang komprehensif telah disetujui sebagai dasar reaktivasi. Lukman menyatakan seluruh kebutuhan teknis dan operasional harus dipenuhi sebelum bandara beroperasi optimal.
Beberapa keterbatasan bandara disebutkan, antara lain luas lahan yang terbatas karena kepadatan permukiman, panjang landas pacu 2.220 x 45 meter yang tidak dapat diperpanjang, keterbatasan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), serta penggunaan bersama dengan TNI Angkatan Udara.
Untuk mendukung pelayanan pesawat kategori kritis seperti Boeing 737-800 dan Airbus A320 diperlukan peningkatan infrastruktur: overlay runway dan taxiway, rekonstruksi apron rigid serta overlay apron fleksibel.
Selain itu, perlu peningkatan kategori Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) menjadi Kategori 7, penambahan kendaraan Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF), penguatan personel, serta perbaikan fasilitas terminal termasuk atap, waterproofing, dan penyempurnaan fasilitas penumpang.
Strategi Mobilisasi Aset
Ditjen Hubud mendorong pemenuhan PKP-PK Kategori 7 melalui mobilisasi sumber daya yang ada, termasuk opsi pemindahan kendaraan PKP-PK dari Bandara Kertajati setelah operasional pemulangan jamaah haji selesai. Pendekatan ini dirancang agar reaktivasi berlangsung lebih efisien tanpa pengadaan baru.
Opsi Operasional
Terdapat dua opsi operasional yang dipersiapkan. Opsi pertama membatasi layanan untuk pesawat ATR72-500, penerbangan bisnis, dan charter. Opsi kedua memungkinkan melayani Boeing 737-800 dan Airbus A320 dengan penerapan sistem slot management untuk mengatur kapasitas operasional secara aman.
“Kami berkomitmen agar proses reaktivasi berjalan sesuai standar keselamatan penerbangan internasional,” kata Lukman, menekankan koordinasi intensif dengan pemangku kepentingan agar layanan kembali aman, nyaman, dan andal.
Imbas Terhadap Bandara Lain
Analis penerbangan Gatot Rahardo menilai reaktivasi Husein Sastranegara dengan persiapan sesuai standar penerbangan merupakan langkah tepat. Ia mengingatkan agar keberadaan Bandara Kertajati tetap diperhatikan dari sisi pemanfaatan bisnis dan aksesibilitas.
Gatot menuturkan selama ini Husein hanya melayani pesawat propeller dan non berjadwal. Ia berharap Kertajati tetap dioptimalkan untuk peran yang berbeda, sementara Husein bisa berfungsi sebagai penyeimbang seperti Bandara Halim di Jakarta.
Persiapan InJourney Airports
PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menyatakan telah membentuk Tim Operational Readiness Activation and Transition (ORAT) untuk menjalankan langkah-langkah persiapan. Perusahaan menyebut persiapan mengacu pada surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang mengizinkan Husein melayani penerbangan niaga berjadwal dan tidak berjadwal, baik jet maupun propeller.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad R. Pahlevi mengatakan pihaknya melakukan peningkatan kapasitas ARFF dari Kategori 5 ke Kategori 7, penambahan fasilitas seperti foam tender, serta penyiapan personel tambahan Aviation Security dan perangkat keamanan seperti metal detector dan CCTV.
Pahlevi menambahkan persiapan sisi udara mencakup pelapisan ulang permukaan landas pacu di beberapa sektor untuk mendukung pengoperasian pesawat jet, serta pengecekan kesiapan taxiway dan apron parkir pesawat. Perbaikan terminal dan ruang tunggu juga sedang dilakukan agar pelayanan penumpang lebih nyaman saat bandara kembali melayani penerbangan jet komersial.
Ikuti Detak Media
