— PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyatakan hasil uji coba penggunaan bahan bakar B50 menunjukkan hasil positif dan mendukung program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, mengatakan pemanfaatan B50 merupakan langkah strategis karena memanfaatkan bahan bakar berbasis nabati yang dapat diperbarui.

Menurut Bobby, Indonesia menjadi salah satu negara terdepan dalam pengembangan campuran biodiesel dengan kadar tinggi.

“Setelah melakukan uji coba B50, ini merupakan produk yang sangat khas Indonesia. Indonesia menjadi negara yang berhasil mengembangkan blending biodiesel hingga di atas B20. Kalau dibandingkan dengan negara lain seperti Brasil yang masih menggunakan B10, kita sudah mencapai B50,” ujar Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin di Yogyakarta, dikutip pada Selasa (14/7/2026).

Bobby menjelaskan keunggulan Indonesia terletak pada kemampuan memproduksi bahan bakar berbasis minyak nabati. KAI terus melakukan penyempurnaan teknis agar implementasi B50 dapat diterapkan secara lebih luas.

“Harapannya, berbagai penyelesaian teknis yang saat ini sedang kami lakukan dapat segera tuntas sehingga penggunaan B50 semakin optimal,” kata Bobby.

KAI menilai penerapan B50 sejalan dengan upaya pemerintah menekan impor BBM diesel atau solar melalui peningkatan pemanfaatan energi terbarukan.

Selain mendukung ketahanan energi nasional, penggunaan B50 dinilai lebih efisien dibanding bahan bakar berbasis fosil sepenuhnya.

“Sangat efisien. Sebelumnya kita menggunakan bahan bakar fosil seluruhnya, sekarang 50% berasal dari bahan bakar berbasis nabati yang merupakan energi terbarukan. Artinya, kita mulai beralih dari sumber daya yang terbatas menuju sumber daya yang dapat diperbarui,” jelasnya.

KAI menegaskan akan terus mendukung pengembangan bahan bakar ramah lingkungan sekaligus mendorong transisi energi di sektor transportasi perkeretaapian.