— Sejumlah investor berencana menyuntikkan dana untuk membangun pusat data di Indonesia sehingga total kapasitas yang direncanakan mencapai sekitar 1,3 gigawatt (GW). Saat ini, kapasitas pusat data yang telah beroperasi di Indonesia dilaporkan baru sekitar 580 megawatt (MW).

Salah satu rencana terbesar melibatkan perusahaan infrastruktur AI asal Australia, Firmus Technologies, yang bekerja sama dengan Nvidia untuk menjajaki pembangunan fasilitas di Batam. Proyek itu akan menyediakan sekitar 170.000 unit Graphics Processing Unit (GPU) generasi terbaru secara bertahap mulai kuartal I-2027 hingga awal 2028.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kapasitas data center yang sudah beroperasi saat ini berada di angka 580 MW. Menurutnya, tambahan investasi untuk proyek-proyek pusat data itu diperkirakan bisa mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar.

“Yang sudah itu 580 MW, itu mungkin setara US$ 1 juta per MW. Nah, kemudian kalau tambahan lagi sekitar 1,3 GW. Ya ini yang sekarang di Batam itu juga investasinya sekitar US$ 15-20 miliar yang sudah on the pipeline,” kata Airlangga.

Selain kerja sama Firmus dan Nvidia, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dipastikan akan ikut menyuntikkan investasi langsung. Airlangga menambahkan kawasan Karawang juga akan menjadi lokasi ekspansi pusat data oleh sejumlah big tech.

“Kemudian di Karawang, ini juga hampir seluruh big tech akan mengembangkan ekspansi data center, karena saat ini data center sangat menjadi kunci untuk AI yang mengandalkan quantum computing,” jelasnya.

Pemerintah juga menyiapkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung pertumbuhan industri digital. Pemerintah menjalin kerja sama dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Ltd., dengan target memasukkan sekitar 15 ribu insinyur ke dalam ekosistem Arm.

“Ini betul-betul membutuhkan SDM baru. Dan SDM baru ini kemarin kita sudah kerja sama dengan Arm chips. Arm ini juga jadi mitra dari Nvidia. Kita ambil yang paling hulu. Jadi ada kebijakan kita downstreaming mineral tapi ada kebijakan dari digital yang kita naik ke upstream. Diharapkan dengan upstream itu nanti kita turun lagi ke downstream. Tetapi kuncinya ini seluruhnya adalah SDM,” tutur Airlangga.

Proyek AI dan Akses Komputasi

Terkait rencana Firmus Technologies dan Nvidia, proyek itu diperkirakan akan menjadi salah satu klaster komputasi AI terbesar di Asia Tenggara. Infrastruktur dirancang untuk menyediakan akses komputasi AI dengan biaya lebih kompetitif bagi perusahaan rintisan dan perusahaan AI yang sedang berkembang.

CEO Firmus Technologies Tim Rosenfield mengatakan kemitraan dengan Nvidia bertujuan memperluas akses terhadap infrastruktur AI bagi perusahaan-perusahaan yang selama ini kesulitan memperoleh pembiayaan maupun kapasitas komputasi.

“Kami telah berupaya mencari cara untuk menjembatani kesenjangan antara manfaat biaya yang dapat diakses oleh perusahaan besar, yang mereka peroleh karena memiliki peringkat kredit yang sangat baik, dengan perusahaan-perusahaan pendatang baru,” kata Tim Rosenfield.

Tim Rosenfield menambahkan langkah tersebut akan menciptakan persaingan yang lebih setara dalam industri AI sehingga perusahaan-perusahaan baru memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan bersaing dengan pelaku usaha berskala besar.

Perkembangan Kapasitas Pusat Data

Laporan Cushman & Wakefield APAC Data Centre H2 2025 mencatat jumlah total pusat data di Indonesia tumbuh dari 52 menjadi 58 pada periode 2024–2025, sementara basis operator meningkat dari 28 menjadi 31.

Kapasitas operasional juga tercatat naik dari 278 MW menjadi 321 MW seiring dengan pasokan baru yang dioperasikan secara bertahap. Aktivitas pengembangan meningkat, dengan kapasitas yang sedang dibangun sebesar 186 MW dan kapasitas yang sedang dalam tahap perencanaan mencapai 901 MW.

Head of Data Centre Group, Asia Pacific Andrew Green menyebut wilayah Jabodetabek terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar data centre dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik. Ia memproyeksikan kapasitas operasional di wilayah itu meningkat hingga 4,4 kali lipat pada 2030.

“Lebih dari satu gigawatt kapasitas saat ini berada dalam pipeline pengembangan hingga 2030, mencerminkan permintaan yang berkelanjutan dari hyperscaler dan perusahaan. Greater Jakarta juga menjadi salah satu dari sedikit pasar yang menarik investasi dari hyperscaler Amerika dan Tiongkok, sehingga semakin memperkuat posisinya sebagai hub data centre utama di Asia Tenggara (Asean),” kata Andrew.

Andrew menambahkan bahwa di seluruh Asia Pasifik, termasuk Indonesia, beban kerja artificial intelligence (AI) dan cloud menjadi pendorong utama pasokan baru. Prioritas pengembangan mengarah pada lokasi dengan kesiapan daya serta infrastruktur berkapasitas tinggi.

“Pemerintah di kawasan juga terus menyelaraskan kerangka kebijakan dengan pengembangan infrastruktur digital, sementara ketersediaan daya, komitmen keberlanjutan, serta pertimbangan regulasi tetap menjadi faktor kunci dalam pemilihan lokasi,” ungkap Andrew.

Peta Regional Pusat Data

Berdasarkan data Seasia Stats, Indonesia disebut menempati peringkat pertama dengan 184 pusat data, yang mencerminkan populasi besar, ekonomi internet yang berkembang, dan meningkatnya permintaan layanan cloud. Laporan mencatat pusat perkotaan besar, termasuk Jakarta dan wilayah metropolitan sekitarnya, menjadi fokus fasilitas data hyperscale dan perusahaan.

Di posisi kedua adalah Malaysia dengan 115 pusat data, diikuti Singapura dengan 83 pusat data. Pertumbuhan di Malaysia banyak didorong oleh perkembangan strategis di kota-kota seperti Johor Bahru, yang diuntungkan oleh kedekatan dengan Singapura, sedangkan Kuala Lumpur tetap menjadi pusat utama.

Seasia Stats menambahkan, “Sementara itu, Singapura terus melampui bobotnya sebagai pusat data global, memanfaatkan infrastruktur konektivita, dan lingkungan yang ramah bisnis, meskipun ketersediaan lahan terbatas.”