— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih rentan mengalami koreksi pada Mei 2026. Kekhawatiran itu muncul seiring kebangkitan kembali fenomena Sell in May and Go Away serta kumpulan sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.

Pergerakan pasar sepanjang April 2026 menunjukkan tekanan: IHSG terkoreksi 3,17% dalam sebulan dan tercatat turun 19,55% secara year to date (YTD) per 30 April. Para analis memperkirakan pasar akan bergerak lebih condong konsolidatif pada Mei.

Definisi Sell In May And Go Away

Sell in May and Go Away adalah strategi musiman yang menyarankan investor menjual saham pada Mei dan kembali membeli sekitar Oktober–November. Pola ini lahir dari catatan historis yang menunjukkan kinerja pasar saham cenderung lebih lemah antara Mei hingga Oktober dibandingkan periode November hingga April.

Asal-usul fenomena ini merujuk pada observasi pasar modal AS, termasuk indeks S&P 500, yang menunjukkan return rata-rata lebih tinggi pada November–April. Penjelasan yang biasa diajukan mencakup turunnya aktivitas investor institusi saat liburan musim panas, volatilitas makro pertengahan tahun, dan menurunnya volume perdagangan.

Di Indonesia, data historis juga mencatat kecenderungan pelemahan pada bulan Mei. Rata-rata pelemahan historis IHSG mencapai 1,80%. Namun tren ini tidak absolut: dalam 20 tahun hingga 2022, periode Mei–Oktober hanya menunjukkan kinerja buruk sebanyak tujuh kali, sementara 13 kali lainnya mencatatkan hasil positif.

Secara statistik untuk dekade terakhir, disebutkan bahwa probabilitas penurunan pada bulan Mei mencapai 67% sepanjang 2017–2026, dengan hanya tiga dari sembilan tahun terakhir mencatatkan kinerja positif pada bulan tersebut.

Analisis Potensi Koreksi Mei 2026

Memasuki Mei 2026, beberapa indikator memicu kewaspadaan investor. Penutupan April yang berada di zona merah menjadi latar bagi risiko koreksi lebih lanjut ketika sentimen eksternal dan domestik menumpuk.

Para pelaku pasar memperkirakan pergerakan IHSG cenderung konsolidatif, dengan tekanan dari faktor fundamental dan sentimen likuiditas yang dapat mempengaruhi aliran modal asing.

Sentimen Negatif Yang Perlu Diwaspadai

  • Pelemahan Rupiah: Depresiasi mata uang yang sempat menembus Rp 17.300 per dolar AS menjadi faktor utama yang menekan kepercayaan investor dan berisiko memicu capital outflow.
  • Ketidakpastian Geopolitik: Konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan AS–Iran, dapat menurunkan risk appetite investor dan meningkatkan volatilitas, serta mendorong kenaikan harga minyak dunia.
  • Kebijakan Moneter Global: Sikap hawkish Federal Reserve terkait inflasi dan kenaikan imbal hasil US Treasury berpotensi mengalihkan modal ke aset aman.
  • Evaluasi Indeks MSCI: Pasar menanti hasil rebalancing MSCI pada Mei 2026. Ketiadaan emiten baru dalam MSCI Global Standard dan Small Cap disebut terkait evaluasi terhadap reformasi transparansi pasar modal Indonesia.
  • Rilis Data Ekonomi: Pelaku pasar akan mencermati rilis S&P Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi (GDP) kuartal I 2026.

Strategi Investor Menjelang Mei

Meskipun risiko koreksi cukup besar, sejumlah strategi dapat dipertimbangkan, terutama bagi investor jangka panjang. Penurunan harga pada Mei juga berpotensi menjadi kesempatan akumulasi dengan harga lebih rendah.

  • Diversifikasi portofolio ke aset yang lebih stabil, seperti ETF obligasi jangka pendek atau pasar uang.
  • Fokus pada analisis fundamental dan teknikal emiten sebelum membeli.
  • Menerapkan strategi bertahap (DCA) dan buy-and-hold untuk mengurangi risiko timing pasar.
  • Mencermati sektor yang cenderung lebih tahan, misalnya emiten berpendapatan dolar AS, komoditas, dan perusahaan dengan rekam jejak dividen konsisten.
  • Memantau sentimen global dan indikator makro secara berkala.

Fenomena Sell in May and Go Away merupakan pola historis yang tidak selalu terjadi setiap tahun. Investor disarankan tetap berhati-hati dan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.