Detak Media — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup mengalami koreksi tajam pada perdagangan Jumat (24/4/2026), setelah investor melepas kepemilikan saham di tengah sentimen negatif global dan gejolak pasar keuangan.
IHSG pada penutupan sesi akhir perdagangan tercatat berada di level 7.129,xx, atau melemah 249,11 poin (−3,38 persen) dari posisi penutupan sebelumnya. Pelemahan signifikan ini menandai salah satu penurunan terbesar dalam beberapa pekan terakhir di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut data RTI Infokom, total nilai transaksi mencapai Rp24,33 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 47,12 miliar saham diperdagangkan pada hari ini. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 670 saham terkoreksi, 83 saham menguat, dan 62 saham stagnan.
Seluruh Sektor Tertekan
Data perdagangan menunjukkan seluruh sektor saham bergerak di zona merah, dipimpin oleh sektor infrastruktur yang tertekan terdalam dengan koreksi lebih dari 4 persen, disusul sektor finansial dan material. Pelemahan ini mencerminkan risiko penurunan risk appetite investor terhadap aset berisiko di pasar modal domestik.
Tekanan jual juga terlihat pada saham-saham big cap dan konglomerat, termasuk saham-saham milik Grup Barito, Sinarmas, dan beberapa bank besar yang menurun signifikan sepanjang hari.
Koreksi tajam IHSG datang di tengah sentimen global yang memburuk akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz. Konflik yang berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran memicu kenaikan harga minyak di atas USD 100 per barel sehingga memicu kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global. Kondisi ini mendorong investor global untuk mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman, meningkatkan tekanan jual di pasar saham negara berkembang termasuk Indonesia.
Sentimen serupa tercermin di bursa kawasan Asia dan global, di mana indeks saham regional bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 0,97 persen dan Hang Seng Composite di Hong Kong naik 0,24 persen, namun indeks Shanghai Composite China dan Straits Times Singapura masing-masing melemah. Sementara itu, bursa Eropa juga menunjukkan pergerakan bervariasi, dan indeks utama Amerika Serikat seperti S&P 500, Dow Jones, dan NASDAQ Composite semuanya ditutup di zona merah.
Outlook Rupiah dan Risiko Domestik
Selain faktor global, pelemahan IHSG juga dibebani oleh tekanan pada kurs rupiah terhadap dolar AS yang sempat melemah ke kisaran Rp17.300–Rp17.310 per USD beberapa hari terakhir, menambah beban pada pasar modal domestik. Kondisi nilai tukar ini turut memperkuat kekhawatiran investor terhadap risiko pasar Indonesia di tengah gejolak pasar global.
Analis pasar modal melihat koreksi IHSG kali ini sebagai respons terhadap kombinasi sentimen global yang memburuk dan risiko domestik yang meningkat, termasuk likuiditas pasar dan aliran modal keluar (capital outflow) dari investor asing.
Ikuti Detak Media
