Detak.Media — Film biopik Michael tentang perjalanan hidup Michael Jackson resmi tayang perdana di Berlin pada 10 April 2026. Penayangan luas dijadwalkan mulai 24 April 2026 di Amerika Serikat, termasuk di layar IMAX, sebelum bergulir ke pasar internasional.
Disutradarai Antoine Fuqua dan diproduseri Graham King, film ini menempatkan Jaafar Jackson—keponakan sang Raja Pop—sebagai pemeran utama. Sejak jelang rilis, perhatian publik bukan hanya tertuju pada transformasi Jaafar, tetapi juga pada keputusan kreatif film yang dinilai menanggalkan bagian paling kontroversial dalam kehidupan Jackson.
Fokus Cerita: Dari Jackson 5 ke Puncak Era Album Bad
Naskah karya John Logan membawa penonton menelusuri fase awal karier Jackson sejak masa The Jackson 5 pada 1960-an hingga puncak kejayaan solo di era album Bad sekitar 1988.
Relasi yang keras dengan ayahnya, Joseph Jackson (diperankan Colman Domingo), digambarkan sebagai fondasi konflik personal. Film juga menyinggung keputusan-keputusan penting Jackson, termasuk menggandeng John Branca untuk urusan bisnis serta tindakan operasi hidung yang dipicu rasa tidak percaya diri pada penampilannya.
Pendekatan ini membuat film berhenti pada fase kebangkitan dan kejayaan, alih-alih menelusuri periode kehidupan Jackson yang lebih problematik setelahnya.
Penghilangan Tuduhan 1993 Picu Kritik
Perdebatan terbesar muncul karena film tidak memasukkan secara eksplisit tuduhan pelecehan anak tahun 1993 yang pernah menjerat Jackson. Bagian tersebut awalnya dirancang hadir di babak akhir cerita.
Namun, adanya klausul hukum terkait penyelesaian kasus yang membatasi penggambaran Jordan Chandler membuat tim produksi menghapus bagian itu dan menulis ulang keseluruhan babak ketiga. Dampaknya, produksi harus menjalani pengambilan gambar ulang selama 22 hari dengan tambahan biaya sekitar US$15–20 juta (sekitar Rp240–320 miliar) yang ditanggung Michael Jackson Estate.
Sejumlah kritik tajam bermunculan. The Guardian menyebut film ini terasa “dipoles” hingga kehilangan sisi kemanusiaan Jackson yang utuh—baik terang maupun gelap.
Colman Domingo menyatakan film memang sengaja diakhiri pada 1988 untuk memusatkan sorotan pada fase kejayaan. Sementara Nia Long yang memerankan Katherine Jackson menilai pendekatan tersebut menekankan pencapaian awal Jackson.
Akting Jaafar Jackson Tuai Pujian Keluarga
Di tengah perdebatan, penampilan Jaafar Jackson menuai pujian luas. Ini menjadi debut filmnya setelah menjalani persiapan panjang, termasuk latihan koreografi dengan tim yang pernah bekerja bersama pamannya.
Katherine Jackson menyebut Jaafar “mewujudkan” sosok Michael. LaToya Jackson bahkan mengatakan penonton bisa lupa bahwa yang tampil di layar bukan Michael asli. LaToya juga mengungkap bahwa Janet Jackson menolak untuk digambarkan dalam film meski telah didekati.
Proyek Raksasa dengan Target Box Office Tinggi
Didistribusikan Lionsgate di AS dan Universal Pictures secara internasional, film ini menelan anggaran sekitar US$165–170 juta (sekitar Rp2,64–2,72 triliun), menjadikannya salah satu biopik musik termahal.
Trailer perdana yang dirilis pada November 2025 mencatat 116,2 juta penayangan dalam 24 jam. Studio menargetkan pendapatan global minimal US$700 juta (sekitar Rp11,2 triliun), dengan peluang sekuel bila capaian tersebut terwujud.
“Michael” menawarkan potret kejayaan, kreativitas, dan pengaruh artistik sang Raja Pop. Namun, pilihan untuk mengabaikan bab paling kontroversial dalam hidupnya membuat film ini memantik diskusi luas tentang bagaimana sejarah seorang legenda seharusnya dihadirkan di layar lebar.
Di satu sisi, film ini dipuji karena kekuatan musikal dan akting Jaafar Jackson. Di sisi lain, ia dikritik karena dianggap terlalu aman dalam menarasikan sosok yang kehidupannya jauh lebih kompleks.
Ikuti Detak.Media
