Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale menjadi perbincangan setelah sejumlah agenda pemutarannya dilaporkan sempat dihentikan di beberapa kota. Film berdurasi sekitar 95 menit ini pertama kali diputar pada 12 April 2026 dan sejak itu beredar melalui jaringan nonton bareng komunitas di berbagai daerah.

Alih-alih beredar lewat jaringan bioskop komersial, film ini lebih banyak diputar di ruang-ruang diskusi, kampus, dan komunitas. Situasi itulah yang kemudian memicu perhatian publik: sebenarnya, apa isi film Pesta Babi?

Mengambil Latar Tiga Kabupaten di Papua Selatan

Pengambilan gambar utama dilakukan di Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi. Wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai lokasi berbagai proyek berbasis lahan luas, mulai dari perkebunan tebu, kelapa sawit, hingga pengembangan bioenergi dan program food estate.

Kamera merekam perubahan bentang alam yang dirasakan warga: hutan yang terbuka, jalur-jalur baru untuk akses alat berat, serta aktivitas industri yang mulai mendekat ke kampung-kampung adat.

Kesaksian Warga Adat: Marind, Awyu, Yei, dan Muyu

Film menempatkan warga adat sebagai narator utama. Kesaksian datang dari anggota komunitas Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang menceritakan pengalaman mereka ketika alat berat dan aparat keamanan memasuki wilayah kampung.

Salah satu yang disorot adalah pengalaman warga yang menemukan wilayah marganya telah dipasangi patok klaim kepemilikan. Bagi mereka, hutan bukan sekadar lahan, tetapi ruang hidup yang menyediakan pangan, obat, sekaligus ruang ritual dan identitas budaya.

Menelusuri Jejak Konsesi dan Kepentingan Bisnis

Selain dokumentasi lapangan, film ini juga menampilkan penelusuran peta konsesi dan keterkaitan perusahaan-perusahaan yang memiliki izin pengelolaan lahan di Papua selatan. Bagian ini memperlihatkan bagaimana wilayah adat beririsan dengan izin usaha skala besar.

Pendekatan ini memberi konteks bahwa persoalan yang dihadapi warga tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan kebijakan, investasi, dan rantai bisnis yang lebih luas.

Makna “Pesta Babi” dalam Budaya Papua

Judul Pesta Babi diambil dari tradisi penting dalam budaya Papua yang melambangkan kehormatan, persaudaraan, dan hubungan manusia dengan alam. Tradisi ini biasanya digelar dalam momen-momen penting komunitas.

Dalam film, simbol tersebut dipakai untuk menggambarkan kedekatan masyarakat adat dengan tanah dan hutan. Ketika ruang itu berubah, yang terdampak bukan hanya ekonomi, tetapi juga tatanan sosial dan budaya.

Pemutaran Sempat Dihentikan di Sejumlah Lokasi

Setelah pemutaran perdana di Taman Ismail Marzuki, film ini beredar melalui agenda komunitas. Dalam perjalanannya, beberapa agenda pemutaran dilaporkan sempat dihentikan di sejumlah kampus dan kota, di antaranya Ternate dan Mataram.

Kondisi tersebut membuat film ini semakin dikenal luas. Banyak diskusi publik kemudian muncul, baik yang mendukung pesan film maupun yang mempertanyakan sudut pandangnya.

Melalui Film Pesta Babi, pembuat film mencoba menghadirkan perspektif masyarakat adat yang jarang mendapat ruang dalam narasi pembangunan. Film ini tidak menawarkan jawaban, melainkan membuka ruang tanya tentang posisi masyarakat adat di tengah proyek-proyek berskala besar.

Hingga kini, pemutaran film masih dilakukan melalui jaringan komunitas, disertai diskusi publik di berbagai kota.