— Fitch Ratings menilai perusahaan-perusahaan di Indonesia menghadapi peningkatan risiko seiring kondisi makroekonomi yang memburuk dan ketidakpastian regulasi.

Meski demikian, Fitch mencatat sebagian besar perusahaan yang dinilai masih memiliki ruang gerak yang memadai dalam profil kredit saat ini, menurut laporan khusus bertajuk Indonesia Credit Trends: June 2026.

Tekanan Dari Suku Bunga, Nilai Tukar, Dan Harga Energi

Fitch menyebutkan sejumlah faktor eksternal meningkatkan risiko, antara lain kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, kenaikan suku bunga, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut disebut meningkatkan risiko permintaan pada sektor-sektor konsumer yang bergantung pada belanja rumah tangga, seperti otomotif dan properti.

“Pelemahan nilai tukar yang berkepanjangan dapat menekan margin emiten yang bergantung pada impor dengan kemampuan terbatas untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen,” ujar Fitch dalam keterangannya.

Dampak Kebijakan Moneter

Fitch mencatat, seiring pelemahan nilai tukar, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% hanya dalam kurun sebulan.

Menurut lembaga pemeringkat itu, kebijakan moneter yang lebih ketat diperkirakan akan memengaruhi ekspansi sejumlah perusahaan maupun emiten. “Suku bunga kebijakan yang lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan biaya pembiayaan dan membatasi fleksibilitas bagi emiten yang ingin berutang,” tambah Fitch.

Ketidakpastian Regulasi

Selain tekanan ekonomi makro, Fitch menyoroti ketidakpastian regulasi yang meningkat, terutama bagi perusahaan di sektor-sektor sumber daya alam. Lembaga itu menilai perkembangan regulasi menjadi salah satu risiko yang harus diperhatikan oleh pelaku usaha di sektor strategis.

“Kami memperkirakan bahwa regulasi yang terus berkembang akan tetap menjadi risiko bagi perusahaan di sektor-sektor strategis, seperti sumber daya alam,” kata Fitch.

Beberapa Emiten Masih Memiliki Kekuatan

Meski risiko meningkat, Fitch menilai beberapa perusahaan dapat menahan tekanan tersebut jika memenuhi kriteria tertentu. Kriteria yang disebutkan meliputi daya tawar yang kuat, permintaan yang stabil, diversifikasi pendapatan, serta struktur modal yang konservatif.

Dengan kondisi tersebut, Fitch menyimpulkan bahwa profil kredit perusahaan Indonesia tetap beragam: sebagian rentan terhadap tekanan baru, sementara sebagian lain masih memiliki buffer untuk menahan guncangan ekonomi dan regulasi.