Saham DEWA Fluktuatif Usai Umumkan Kredit Jumbo Rp 5 Triliun dari BCA dan Mandiri

Harga saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bergerak fluktuatif pada perdagangan sesi pertama Selasa, 30 Desember 2025. Koreksi harga saham terjadi di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi yang sama. Mengutip data RTI, saham DEWA ditutup turun 0,72% ke posisi Rp 685 per saham.

Saham DEWA dibuka melemah 10 poin ke posisi Rp 680 per saham. Sepanjang perdagangan, saham ini menyentuh level tertinggi di Rp 745 dan terendah di Rp 665. Total frekuensi perdagangan mencapai 142.459 kali dengan volume 20.297.752 saham, menghasilkan nilai transaksi Rp 1,4 triliun.

Meskipun mengalami koreksi pada hari ini, saham DEWA menunjukkan kinerja positif dalam jangka pendek dan menengah. Saham ini tercatat naik 23,42% dalam lima hari terakhir dan melompat 48,27% selama sebulan terakhir. Secara year-to-date (ytd), harga saham DEWA meroket 480,51%.

IHSG Melemah, Asing Justru Akumulasi Saham Ini

Pengumuman Fasilitas Kredit Jumbo

Koreksi saham DEWA terjadi beriringan dengan pengumuman perseroan mengenai penandatanganan perjanjian fasilitas kredit senilai total Rp 5 triliun. Fasilitas ini diperoleh dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Mandiri) pada tanggal 30 Desember 2025.

Perjanjian tersebut mencakup fasilitas kredit investasi sebesar Rp 3,39 triliun. Rinciannya terdiri dari tranche A senilai Rp 2,14 triliun dan tranche B senilai Rp 1,24 triliun. Fasilitas kredit investasi ini memiliki jangka waktu lima tahun sejak penandatanganan, dengan suku bunga compounded INDONIA 90 hari ditambah margin (efektif 6,75%).

Selain itu, perseroan juga mendapatkan fasilitas kredit modal kerja sebesar Rp 1,61 triliun. Fasilitas ini memiliki jangka waktu dua tahun sejak penandatanganan, dengan suku bunga yang sama, yakni compounded INDONIA 90 hari ditambah margin (efektif 6,75%).

Saham DEWA Meroket, Apa Saja Pemicu di Balik Kenaikan Tajam?

Dampak Positif bagi Operasional

Perseroan menyatakan bahwa fasilitas pinjaman ini akan menambah kewajiban, namun diyakini memberikan dampak positif bagi likuiditas. Dana tersebut akan mendukung pembiayaan operasional yang pada akhirnya berkontribusi pada kinerja keuangan.

“Fasilitas pinjaman yang diterima akan berdampak pada peningkatan produktivitas operasional perseroan dan semakin baiknya kelangsungan usaha perseroan,” ujar Direktur PT Darma Henwa Tbk, Mukson Arif Rosyidi.

Mukson menjelaskan bahwa transaksi ini tidak termasuk transaksi afiliasi maupun benturan kepentingan sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 42/POJK.04/2020. Nilai fasilitas pinjaman ini melebihi 50% total ekuitas perseroan per 31 Desember 2024 yang sebesar Rp 3,31 triliun, sehingga termasuk kategori transaksi material berdasarkan POJK 17/POJK.04/2020.

Namun demikian, transaksi ini dikecualikan dari keharusan penggunaan jasa penilai dan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagaimana diatur dalam pasal 11 huruf (b) dan c POJK 17/2020. Pengecualian ini berlaku karena fasilitas pinjaman diperoleh langsung dari bank dan memberikan jaminan langsung kepada bank.

Sebelumnya, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mengumumkan perolehan fasilitas kredit senilai Rp 1 triliun dari BCA pada 21 Desember 2025. Fasilitas ini terbagi menjadi modal kerja Rp 850 miliar (jangka waktu 2 tahun, suku bunga 7%) dan kredit investasi Rp 150 miliar (jangka waktu 5 tahun, suku bunga 7%).

Dana fasilitas kredit investasi tersebut akan digunakan untuk pembelian alat berat baru. Sementara dana modal kerja dialokasikan untuk mengambil alih pekerjaan subkontraktor di proyek PT Kaltim Prima Coal, meningkatkan volume pekerjaan di PT Arutmin Indonesia, serta mendukung pengembangan proyek masa depan.