IHSG Melemah, Asing Justru Akumulasi Saham Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa, 30 Desember 2025, dengan pelemahan 0,41 persen. Indeks tercatat berada di level 8.609,07, turun 35 poin dari posisi penutupan sebelumnya di 8.644,26. Sepanjang sesi I, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar, sempat menyentuh level tertinggi 8.645,13 sebelum akhirnya tergelincir ke titik terendah 8.584,87.
Pergerakan yang dinamis ini mencerminkan pasar yang masih mencari arah pasti, ditandai dengan tarik-menarik antara aksi beli selektif dan tekanan jual yang berlanjut. Meskipun aktivitas perdagangan sangat aktif dengan nilai transaksi mencapai Rp102,85 triliun dan volume 192,06 juta lot, pelemahan indeks mengindikasikan adanya tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot tinggi dalam indeks.
Di tengah tren pelemahan indeks tersebut, investor asing justru menunjukkan minat beli yang signifikan pada beberapa saham. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DEWA) menjadi salah satu yang paling menonjol, dengan mencatatkan net foreign buy sebesar Rp576,72 miliar. Nilai transaksi saham DEWA mencapai Rp1,43 triliun, melibatkan volume besar 20,30 miliar saham dan frekuensi transaksi 142,46 ribu kali. Aktivitas perdagangan yang masif ini mengindikasikan partisipasi yang luas dari berbagai pelaku pasar.
Meskipun diburu investor asing, harga saham DEWA ditutup melemah 0,72 persen ke level 685. Kombinasi antara aliran dana asing yang besar, volume transaksi yang tinggi, dan koreksi harga yang tipis mengisyaratkan adanya tekanan jual domestik yang kuat namun terus terserap oleh pembeli asing. Pola ini sering terlihat pada fase akumulasi ketika saham diperdagangkan aktif dengan harga yang relatif tertahan.
Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga menarik perhatian investor asing dengan net foreign buy mencapai Rp301,67 miliar. Nilai transaksi saham ini tercatat sebesar Rp334,67 miliar, dengan volume 1,05 juta saham dan frekuensi 27,51 ribu kali. Berbeda dengan DEWA, ANTM mengalami tekanan harga yang lebih dalam, turun 4,55 persen ke level 3.150.
Koreksi harga yang lebih tajam pada ANTM di tengah masuknya aliran dana asing menunjukkan adanya distribusi kuat dari pelaku pasar lain, kemungkinan besar investor domestik atau institusi yang melakukan realisasi keuntungan. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun asing masuk, ada pihak lain yang menjual.
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melengkapi daftar saham yang diakumulasi oleh investor asing pada sesi I. Meskipun dalam skala yang lebih kecil, net foreign buy tercatat sebesar Rp112,83 miliar. Nilai transaksi saham ini mencapai Rp78,05 miliar, dengan volume 502,16 ribu saham dan frekuensi 10,39 ribu kali. Harga ADMR sendiri turun 2,82 persen ke level 1.555.
Pola pergerakan ADMR serupa dengan ANTM, di mana aliran dana asing masuk bersamaan dengan tekanan harga. Ini menunjukkan bahwa pelemahan pasar tidak serta-merta direspons asing dengan keluar, melainkan justru dimanfaatkan untuk melakukan pembelian secara bertahap.
Data akumulasi asing pada saham-saham tersebut memperkuat kesan bahwa pelemahan IHSG pada sesi I lebih bersifat teknis dan selektif, bukan disebabkan oleh keluarnya dana asing secara menyeluruh. Investor asing terlihat tidak meninggalkan pasar, namun mengalihkan fokus ke saham-saham spesifik dengan likuiditas tinggi dan tema sektoral tertentu.
Karena saham-saham yang diburu asing ini tidak memiliki bobot yang cukup besar untuk mengangkat pergerakan indeks secara keseluruhan, IHSG tetap bertahan di zona merah. Dengan kondisi ini, pengujian IHSG pada sesi I lebih mencerminkan fase konsolidasi dengan volatilitas intraday yang tinggi. Selama aliran dana asing terus masuk pada saham-saham tertentu, tekanan pada indeks berpotensi bersifat terbatas.