IHSG Anjlok 250 Poin Setelah Cetak Rekor Tertinggi, Sektor Energi Jadi Pemicu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam menjelang penutupan perdagangan Senin (12/1/2026). Penurunan ini terjadi setelah indeks sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada sesi pertama perdagangan.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG sempat dibuka menguat di level 8.991,760. Puncak penguatan terjadi di level 9.000,967, menandai rekor ATH baru. Namun, momentum positif ini tidak bertahan lama.
Menjelang penutupan, indeks berbalik melemah signifikan. Pada pukul 14.39 WIB, IHSG tercatat di level 8.840,307, turun 96,447 poin atau 1,08 persen. Tekanan intraday sempat mendorong IHSG jatuh lebih dalam hingga menyentuh level terendah harian di 8.715,411, atau merosot 250 poin dari saat pembukaan.
Penyebab Koreksi IHSG
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengidentifikasi tekanan pada saham-saham sektor energi sebagai penyebab utama koreksi IHSG. Sektor ini sempat terkoreksi sekitar 2 persen.
Herditya memperkirakan koreksi ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking). Hal ini menyusul penguatan signifikan yang sebelumnya terjadi pada sejumlah emiten energi. Namun, tekanan jual tersebut tidak berlangsung berkelanjutan.
“Kami mencermati koreksi dari IHSG ini dibebani oleh emiten-emiten energi yang tadi sempat terkoreksi kurang lebih 2 persen, dimana kami perkirakan adanya kemungkinan aksi ambil untung setelah beberapa emiten energi menguat signifikan,” ujar Herditya yang kami kutip dari Kompas.com, Senin (12/01).
Ia menambahkan, seiring berjalannya perdagangan, IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan bergerak rebound. Meski demikian, pergerakannya masih berada di teritori negatif.
“Dan saat ini nampak IHSG kembali rebound meskipun masih berada di teritori negatif,” paparnya.
Aktivitas Transaksi
Menjelang penutupan bursa, aktivitas transaksi di pasar saham terpantau ramai seiring volatilitas yang tinggi. Volume perdagangan mencapai 56,388 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 30,229 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 4.005.796 kali.
Dari sisi pergerakan saham, tekanan jual terlihat dominan. Sebanyak 513 saham tercatat melemah, 218 saham menguat, dan 80 saham bergerak stagnan.