IHSG Berpeluang Uji 9.000 Lagi, Analis Ungkap Saham Pilihan Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan potensi untuk melanjutkan tren penguatannya dan kembali menargetkan level psikologis 9.000 pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Proyeksi ini muncul meski pada penutupan sesi Kamis sebelumnya, indeks tercatat mengalami koreksi.

Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada Kamis (8/1/2026) ditutup melemah tipis 0,22% atau terkoreksi 19,34 poin ke posisi 8.925,47. Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di kisaran 9.002. Koreksi yang terjadi dinilai sebagai bagian dari pergerakan yang sehat pasca-reli signifikan dalam beberapa hari terakhir.

IHSG Gagal Bertahan Di Level 9.000, Aksi Jual Asing dan Profit Taking Jadi Biang Kerok

Proyeksi Teknikal IHSG

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengemukakan bahwa IHSG saat ini masih berada dalam fase tren naik. Secara teknikal, posisi indeks diperkirakan berada pada bagian dari gelombang (v) dalam gelombang [iii]. Struktur ini membuka peluang adanya penguatan lanjutan dalam waktu dekat.

Dengan proyeksi struktur tersebut, Herditya menjelaskan bahwa pelaku pasar dapat mencermati potensi pergerakan IHSG menuju area 9.030 hingga 9.077. Potensi ini didukung oleh masih dominannya volume pembelian di pasar.

“Saat ini posisi IHSG diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii], sehingga dapat dicermati area penguatan pada rentang 9.030–9.077,” ujar Herditya dalam analisis hariannya.

Meskipun demikian, Herditya mengingatkan para investor untuk tetap waspada terhadap potensi koreksi jangka pendek. Tekanan jual lanjutan berpotensi membawa IHSG menguji area support terdekat, terutama jika aksi ambil untung kembali meningkat ketika indeks mendekati level psikologis 9.000.

Level Support dan Resistance

Dalam jangka pendek, MNC Sekuritas memproyeksikan level support IHSG berada di area 8.916 hingga 8.776. Sementara itu, level resistance terdekat diproyeksikan berada di kisaran 8.996 hingga 9.030.

Menurut Herditya, potensi koreksi masih dapat terjadi dengan area pengujian di rentang 8.843 hingga 8.904, sebelum indeks kembali menemukan momentum penguatan berikutnya.

“Waspadai potensi koreksi yang diperkirakan menguji area 8.843–8.904. Support berada di 8.916 dan 8.776, sementara resistance di 8.996 dan 9.030,” papar Herditya.

Saham Pilihan yang Dicermati

Seiring dengan proyeksi penguatan IHSG, MNC Sekuritas juga mencermati sejumlah saham yang dinilai menarik untuk perdagangan jangka pendek berdasarkan analisis teknikal. Rekomendasi ini bersifat akumulatif.

Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang ditutup pada level Rp1.660 direkomendasikan untuk dibeli saat terjadi pelemahan (buy on weakness). Pergerakan CDIA saat ini dinilai berada pada bagian gelombang 5 dalam gelombang (C) pada struktur gelombang [2], yang mengindikasikan adanya peluang penguatan lanjutan selama koreksi dimanfaatkan secara terbatas.

PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), yang ditutup pada harga Rp520, juga mendapat rekomendasi buy on weakness. Saham ini diperkirakan berada di awal gelombang [v] dari gelombang 5, sehingga masih memiliki ruang penguatan lanjutan dalam tren naik jangka pendek.

Sementara itu, saham PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) ditutup di level Rp1.460 dan direkomendasikan buy on weakness. ULTJ dinilai berada di awal gelombang [c] dari gelombang B, yang mencerminkan potensi pergerakan naik lanjutan selama struktur gelombang tetap terjaga.

Di sisi lain, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang ditutup pada harga Rp3.530 direkomendasikan untuk dijual saat terjadi penguatan (sell on strength). Pergerakan TLKM saat ini diperkirakan berada di awal gelombang [v] dari gelombang A dalam gelombang (2). Oleh karena itu, penguatan yang terjadi dinilai dapat dimanfaatkan untuk aksi ambil untung secara bertahap.

Waspadai Volatilitas Pasar

Pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati dinamika global dan domestik yang terjadi. Pergerakan nilai tukar rupiah serta rilis data ekonomi menjadi faktor penting yang berpotensi memengaruhi volatilitas IHSG dalam jangka pendek.

Kendati peluang penguatan masih terbuka, disiplin dalam manajemen risiko dinilai tetap krusial. Hal ini mengingat kondisi pasar yang mulai sensitif terhadap aksi ambil untung (profit taking).

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.