IHSG Gagal Bertahan Di Level 9.000, Aksi Jual Asing dan Profit Taking Jadi Biang Kerok

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan level psikologis 9.000 dan berbalik melemah pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat mencetak rekor tertinggi intraday sepanjang sejarah pada sesi pembukaan.

Pada sesi pagi, IHSG sempat menembus level 9.002,92 sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, tekanan aksi ambil untung atau profit taking yang meningkat membuat indeks berbalik arah dan ditutup di zona merah.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 19,34 poin atau 0,22% ke level 8.925,47. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak fluktuatif dengan level terendah di 8.918,41.

Tekanan Jual Mendominasi Perdagangan

Tekanan jual mendominasi pergerakan saham pada penutupan perdagangan kemarin. Tercatat sebanyak 380 saham melemah, 328 saham menguat, dan 250 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp28,78 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 51,58 miliar saham dan frekuensi 3,71 juta kali transaksi.

Dari sisi sektoral, saham-saham basic material mencatatkan pelemahan terdalam seiring aksi profit taking setelah reli tajam dalam beberapa hari terakhir. Sebaliknya, sektor transportasi justru mencatatkan penguatan terbesar dan menunjukkan sinyal rebound di tengah koreksi pasar.

Sinyal Koreksi dari Makroekonomi dan Teknikal

Tekanan pasar juga datang dari pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali melemah. Rupiah diperdagangkan di level Rp16.785 per dolar AS di pasar spot pada Kamis (8/1). Tim riset Phintraco Sekuritas menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta kondisi fiskal domestik.

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 tercatat lebih besar dari target yang telah ditetapkan, menambah sentimen negatif. Secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG berada di area overbought dan berpotensi membentuk pola death cross. Pergerakan indeks membentuk pola shooting star yang kerap diartikan sebagai sinyal potensi pembalikan arah setelah reli kuat dan pencapaian level tertinggi baru.

Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan area pengujian di kisaran 8.850–8.900. Level resistance terdekat berada di area 8.970, dengan pivot di 8.900 dan support di sekitar 8.800.

Asing Masih Net Buy, Namun Ada Aksi Jual Signifikan

Di tengah koreksi indeks, investor asing secara agregat masih mencatatkan net buy sebesar Rp950,2 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Jumat (9/1/2026). Asing membukukan nilai beli Rp8,4 triliun dan jual Rp7,5 triliun.

Meskipun demikian, aksi jual asing terlihat cukup signifikan pada sejumlah saham, terutama di sektor komoditas dan perbankan. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan net foreign sell sebesar Rp328,5 miliar. Di posisi berikutnya, saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mencatat net sell asing Rp190,9 miliar, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan net sell Rp129,2 miliar.

Tekanan jual asing juga tercatat pada saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) sebesar Rp68,7 miliar dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar Rp50,3 miliar. Dari sektor tambang mineral, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Timah Tbk (TINS) masing-masing mencatat net sell Rp49,2 miliar dan Rp48,7 miliar.

Fokus Pasar ke Data Domestik

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi domestik, termasuk indeks keyakinan konsumen dan penjualan otomotif, yang dijadwalkan rilis pada Jumat (9/1). Data tersebut diperkirakan akan menjadi katalis pergerakan pasar di tengah meningkatnya volatilitas pasca kegagalan IHSG bertahan di atas level 9.000.