Saham DEWA Meroket, Apa Saja Pemicu di Balik Kenaikan Tajam?
Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menunjukkan performa impresif di pasar modal, nyaris menyentuh level 700 setelah membukukan kenaikan lebih dari 20% dalam satu hari perdagangan. Lonjakan ini memicu pertanyaan mengenai faktor-faktor yang mendorong pergerakan harga saham emiten pertambangan tersebut.
Secara teknikal, saham DEWA telah berada dalam fase uptrend dan mengonfirmasi pola bullish continuation berupa pennant. Pola ini mengindikasikan kelanjutan tren naik setelah periode konsolidasi, serta memberikan sinyal momentum bullish yang kuat. Berhasil menembus level resistance di 615 menjadi pemicu utama reli yang terjadi.
Di balik kenaikan harga saham yang signifikan ini, terdapat sejumlah sentimen dan katalis fundamental yang turut memengaruhi, termasuk pergerakan dari investor institusi atau big fund.
Prospek Ekspansi Operasional 2026 Kian Jelas
Salah satu pemicu utama kenaikan saham DEWA adalah semakin jelasnya prospek pertumbuhan perusahaan pada tahun 2026. PT Darma Henwa Tbk memproyeksikan pengambilalihan operasional penuh di tambang Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Pengambilalihan ini dijadwalkan terjadi setelah kontrak subkontraktor berakhir pada akhir 2025. Proses transisi di lapangan ditargetkan rampung pada kuartal I/2026. Langkah ini berpotensi membuka peluang margin keuntungan yang lebih besar bagi DEWA, dibandingkan posisinya saat ini yang hanya sebagai subkontraktor.
Selain itu, DEWA juga sedang mengincar kontrak baru di proyek Arutmin dan menjajaki berbagai peluang kontrak lain yang masih dalam tahap penjajakan. Hal ini membuat visibilitas pendapatan perusahaan menjadi lebih terukur dan berkelanjutan.
Perbaikan Neraca dan Peluang Pembayaran Dividen
Katalis positif lainnya datang dari upaya perbaikan struktur keuangan perusahaan. DEWA tengah menjalankan proses reklasifikasi ekuitas untuk memindahkan selisih kurs senilai sekitar Rp 2,2 triliun. Dana tersebut sebelumnya dicatat sebagai rugi ditahan dan kini akan dipindahkan ke pos yang lebih tepat.
Langkah ini masih dalam tahap tinjauan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan auditor. Apabila proses ini rampung, maka akan memperbaiki struktur neraca perusahaan. Lebih lanjut, perbaikan ini membuka peluang bagi DEWA untuk menyusun kebijakan pembayaran dividen pada tahun 2026, yang tentunya memberikan sentimen positif bagi investor.
Fasilitas Kredit Rp1 Triliun dari BCA
Pada 19 Desember lalu, PT Darma Henwa Tbk menandatangani fasilitas kredit senilai total Rp1 triliun dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Fasilitas ini terbagi menjadi Rp850 miliar untuk kebutuhan modal kerja dan Rp150 miliar dialokasikan untuk investasi.
Dana investasi tersebut rencananya akan digunakan untuk pembelian alat berat baru yang akan mendukung ekspansi operasional perusahaan. Fasilitas kredit ini dinilai memperkuat posisi keuangan DEWA dalam mengambil alih pekerjaan tambang, memperluas proyek Arutmin, serta mendukung modernisasi armada operasionalnya.
Langkah ini diterima positif oleh pasar sebagai sinyal dukungan likuiditas yang kuat menjelang fase ekspansi pada tahun 2026.
Aksi Borong Saham oleh CGS International Sekuritas
Aliran dana dari investor institusi atau big fund juga turut memengaruhi pergerakan saham DEWA. Salah satu aksi signifikan tercatat dari CGS International Sekuritas Indonesia.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi pembelian dilakukan pada 11 Desember 2023 saat harga saham DEWA berada di level Rp264 per saham. Melalui transaksi ini, kepemilikan saham CGS International Sekuritas Indonesia meningkat dari 1.569.200.000 lembar saham menjadi 2.249.540.377 saham.
Peningkatan kepemilikan ini secara otomatis turut menaikkan hak suara CGS International Sekuritas Indonesia dari 3,86% menjadi 5,53% dari total saham yang beredar.